Jakarta, Aktual.com – Keseringan lupa akan sesuatu, seperti lupa membawa kunci, meninggalkan telepon genggam saat akan bekerja dan kemudian harus kembali ke rumah untuk mengambilnya, serta kejadian sejenis yang terjadi pada manusia, agaknya tidak bisa dianggap remeh.

Anggapan bahwa kelupaan semacam itu adalah hal biasa saja, akan menjadi “tidak biasa” bila kemudian berulang beberapa kali, dan bahkan meningkat menjadi sering kali.

“Itu (kasus kelupaan) adalah gejala-gejala di mana demensia mulai melanda seseorang,” kata dokter ahli saraf Indonesia, dr Andreas Harry SpS (K).

“Dan itu, bisa terjadi bukan saja di kalangan lanjut usia (lansia), pun saat ini kasusnya juga dialami kalangan usia muda,” tambahnya.

Ahli saraf yang menyelesaikan studi spesialisnya di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, yang juga anggota “International Advance Research” Asosiasi Alzheimer Internasional (AAICAD) itu, selalu menghadiri pertemuan tahunan Konferensi Internasional Alzheimer (The Alzheimer’s Association International Conference/AAIC), yang tempatnya selalu bergantian, antara Eropa dan Amerika Serikat.

Dalam ajang tahunan yang membahas persoalan penyakit alzheimer dan demensia itu, ribuan peneliti dan ahli kedokteran klinis dari berbagai negara membahas perkembangan terkini mengenai penyakit tersebut, termasuk terapi-terapi masa depan yang bisa dilakukan bagi pasien demensia dan alzheimer.

(Abdul Hamid)