Jakarta, Aktual.com – Sektor pariwisata nasional yang terus berkembang pesat di Nusantara perlu didorong agar dapat menarik lebih banyak lagi investasi terutama dari luar negeri, kata Wakil Ketua Komisi X DPR, Sutan Adil Hendra.

Sutan Adil Hendra dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/11), mencontohkan negara Thailand, yang dinilai berhasil mengoptimalkan sektor pariwisata mereka dengan sangat baik.

“Selama ini neraca transaksi berjalan Thailand berada dalam kondisi yang sangat stabil, bahkan tidak pernah mengalami defisit, karena ditunjang sektor pariwisata,” paparnya.

Politisi Partai Gerindra itu juga mengingatkan bahwa bagusnya kondisi perekonomian Negeri Gajah Putih itu juga didorong oleh sektor pariwisata yang berhasil menarik kunjungan wisatawan mancanegara hingga 30 juta per tahun.

Untuk itu, ujar dia, sektor pariwisata nasional juga harus mampu membawa lebih banyak devisa dan aliran dana masuk ke Tanah Air dalam bentuk investasi.

“Belajar dari Thailand, kita ingin pariwisata menjadi penghasil devisa utama baik yang dibawa wisatawan dan juga ada ‘foreign direct investment’,” ucapnya.

Sebelumnya, Kementerian Pariwisata menargetkan pemasukan devisa yang didapat dari sektor pariwisata sebesar 17 miliar dolar AS pada 2018 dan sebesar 20 miliar dolar AS pada 2019.

Kemandirian dan partisipasi aktif masyarakat seperti dicontohkan di Banyuwangi, Jawa Timur, diharapkan menjadi teladan bagi berbagai daerah termasuk DKI Jakarta dalam menumbuhkan sektor pariwisata yang menjadi mesin pendulang devisa.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Trisno Nugroho usai kunjungan di Banyuwangi, Jawa Timur (4/11), mengatakan peran pemerintah daerah sangat penting sebagai “tuan rumah” dan pemangku kebijakan di daerah tersebut.

Beberapa peran tersebut antara lain, kebijakan fiskal pemda dalam mengalokasikan anggaran bagi pariwisata, serta dukungan regulasi untuk mendorong partisipasi aktif masyarakat setempat.

Terlebih, peran pemerintah daerah di bidang pariwisata saat ini sangat dibutuhkan karena Tanah Air sedang membutuhkan pasokan devisa yang memadai agar bisa membendung tekanan ekonomi eksternal terhadap nilai tukar rupiah.

“Kenapa pariwisata? karena pariwisata menjadi sumber ketiga devisa bagi Indonesia setelah minyak dan produk kelapa sawit. Indonesia kaya akan pariwisata, sudah saatnya daerah jadikan pariwisata sebagai sumber baru pertumbuhan,” ujarnya.