Ilutrasi

Jakarta, Aktual.com– Manusia adalah makhluk yang sempurna. Allah SWT tidak menciptakan makhluk yang lebih sempurna selain manusia, bahkan semua makhluk yang ada di bumi dan yang ada di langit diciptakan agar dapat ditundukkan oleh manusia. Allah SWT berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Al-Jatsiyat: 13)

Kesempurnaan manusia terdapat pada akal dan hati mereka. Keduanya merupakan mahkota tertinggi bagi makhluk Allah. Akan tetapi, apabila manusia tidak mampu menjaga hatinya dari kerusakan-kerusakan kelak Ia hanya akan menjadi sampah dunia saja.

Berbagai macam penyakit hati senantiasa berusaha menguasai hati. Penyakit-penyakit hati itu berupa sombong, pemarah, ujub, riya’, sum’ah, pendendam dan berbagai macam penyakit hati lainnya.

Dari sekian banyak penyakit hati, Hasad merupakan penyakit yang mematikan dan berbahaya bagi hati. Ketika hati seseorang terkena penyakit ini, maka Ia akan menjadi keras kepala, jelek wataknya, pemarah dan tidak terima dengan takdir Allah.

Ia tidak terima jika ada orang lain selain dirinya yang mendapatkan anugrah dari Allah. Dan Ia selalu berharap agar Allah segera mungkin untuk menghilangkan atau mencabut kenikmatan yang Ia berikan kepada orang lain tersebut.

Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad dalam kitab Risalah Adabus Sulukil Murid mengatakan bahwa secara garis besar, penyebab penyakit hasad ini dapat dikelompokkan menjadi dua:

Pertama, Pendapatan (Harta)

Harta dapat menjerumuskan kita dalam penyakit hasad. Melihat tetangga yang memiliki barang bagus, hati merasa tidak ridha, melihat tetangga memiliki mobil baru, hati juga merasa tidak ridha, bahkan melihat apapun anugrah dan nikmat Allah yang diberikan kepada orang lain, terkadang tidak merasa ridha. Maka harta ini menjadi salah satu factor penyebab adanya penyakit hasad.

Kedua, Pangkat

Pangkat atau kedudukan seringkali membuat orang lalai dan tidak sadar masuk ke dalam penyakit hasad. Teman kantor diangkat menjadi pegawai tetap, hati tidak rela, teman seperjuangan menjadi anggota dewan, tidak rela, lebih-lebih yang mendapat kenaikan pangkat adalah orang yang posisisnya dibawah dirinya. Maka, kita harus waspada dan mawas diri agar tidak mendewakan pangkat dan kedudukan, karena berpotensi menyerang hati kita.

Itulah faktor besar penyakit hasad bersarang didiri seseorang. Semoga kita bisa terhindar dari penyakit hasad.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)