Ilustrasi Kolonialisme dan Feodalisme (istimewa)

Jakarta, Aktual.com – Kolaborasi kolonialisme dengan feodalisme memperburuk akibat penjajahan di Nusantara pada masa lalu menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada, Sri Margana.

“Kolonialisme itu memang buruk tapi di Nusantara mereka berkolaborasi dengan feodalisme,” katanya dalam Simposium Pascakolonial dan Isu-Isu Mutakhir Lintas Disiplin di Lebak, Sabtu (8/9).

Ia lalu menuturkan sejarah awal kedatangan orang Belanda yang diwakili oleh organisasi dagang VOC ke wilayah Nusantara pada abad ke-17.

VOC menjalin hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang saat itu saling berkompetisi dan menghadapi konflik internal. Kondisi kerajaan-kerajaan Nusantara kala itu membuka celah bagi VOC untuk masuk ke dalam kekuasaan secara perlahan.

“VOC datang dengan meriam besar yang menjadi daya tarik untuk orang yang berkonflik sebagai mitra untuk melawan oposisinya,” kata Margana.

Keberpihakan VOC tentu tidak gratis. Kerajaan-kerajaan yang mendapat bantuan dari Eropa harus membayarnya dengan sejumlah uang dan memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan dalam perjanjian tertulis.

Bukti-bukti persekongkolan itu bisa dilihat di Corpus Diplomaticum Neerlando-Indicum, perjanjian antara VOC dan kerajaan di Nusantara antara abad 17 dan 18.

“Sayangnya kerajaan ini bangkrut setelah perang dan tak bisa membayar ke VOC. Akhirnya mereka membayar dengan cara lain seperti menyerahkan bandar-bandar untuk VOC,” kata dia.

Itu membuat VOC, bahkan ketika bangkrut dan terlilit utang pada abad ke-18 antara lain karena mereka sering mendukung perang dan tindakan korup sebagian elitnya, masih bisa menyisakan aset besar yang kemudian diambil alih oleh Pemerintah Belanda untuk menutupi utangnya.

“Caranya dengan mendirikan negara koloni untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang ada di dalamnya. Ini awal mula kolonialisme Belanda di Indonesia,” katanya.

(Nebby)