Suasana bongkar muat di Pelabuhan Indonesia, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (22/11/2018). Lembaga kajian ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia mengatakan pertumbuhan ekspor Indonesia pada tahun depan berpotensi tertekan seiring masih melambatnya pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara yang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, diperkirakan akan mengalami perlambatan tahun depan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan III tahun 2019 tumbuh 5,02 persen (year on year), kata Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/11).

Menurut dia, perekonomian yang mengalami perlambatan pada triwulan ini terpengaruh oleh kinerja global yang masih diliputi ketidakpastian.

“Kalau kita lihat perekonomian global perang dagang masih berlangsung antara US dan china. Ada tensi politik. Berbagai hal ini berdampak pada pelemahan ekonomi pada beberapa negara,” jelasnya.

“Meski melambat, tapi ekonomi kita tidak terlalu curam dibandingkan negara lain,” katanya menambahkan.

Dengan demikian, kata Suhariyanto, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 tumbuh 5,04 persen jauh lebih rendah dari kuartal III-2018 sebesar 5,17 persen.

“Perlu jadi catatan bahwa besarnya realisasi investasi di BKPM hanya 14-15 persen dari total PNBP yang ada di PDB,” katanya.

Sementara, kata Suhariyanto, secara year to date (ytd) ekonomi Indonesia tercatat tumbuh 5,04 persen.

“Kalau dibandingkan dengan triwulan II-2019 PE kita masih tumbuh 3,06 persen. Kalau digabung triwulan I sampai III pertumbuhan ekonomi kita 5,04 persen,” tuturnya.

(Zaenal Arifin)