Jakarta, Aktual.com – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah turut berduka atas meninggalnya Politisi senior, yang juga Mantan Ketua Badan Kehormatan DPD RI AM Fatwa.

“Saya mengenal pak Fatwa sejak lama sekali di banyak momentum, sebagai orang Sumbawa beliau juga pernah tinggal dan lama di kampung saya di Sumbawa, sebagai tokoh Bugis di Jakarta tentu kami juga sama-sama memiliki darah Bugis kelahiran bone, waktu saya tiba di Jakarta saya sudah mengenal beliau sebagai tokoh yang melegenda, beliau terlibat dalam pristiwa-peristiwa poliitk pada masa lalu baik orde kama maupun Orde baru,” ujar Fahri, Kamis (14/12).

Fahri mengungkapkan, AM Fatwa pernah dipenjara dalam waktu lama karena tuduhan-tuduhan poltik di masa lalu, lebih dari 12 tahun menjalani penjara yang vonis-nya seumur hidup. Keaktifannya di organisasi-organisasi Islam seperti PII, HMI dll membuatnya menjadi dikenal luas di kalangan Islam dan non Islam.

“Sebelum saya menjadi anggota DPR kami bersama-sama di banyak tempat sebelum reformasi dan saat reformasi. Bersama almarhum Adi Sasono kami bersama aktif di ICMI dan bersama Prof Amien Rais kami bersama mendorong reformasi,” ungkapnya.

Fahri teringat, malam itu 20 Mei 1998, mereka berangkat dari rumah Prof Malik Fadjar di kawasan Menteng dan meninjau kawasan Monas yang kabarnya sudah dikepung tentara.

“Kami bertiga dengan pak Amien Rais naik mobil pak fatwa, kijang (berwarna merah hati). Setelah melihat monas yang dipenuhi alat persenjataan berat kami kembali ke Menteng dan memutuskan untuk membatalkan aksi damai keesokan harinya yang ternyata malah pak Harto mengundurkan diri 21 Mei 1998,” katanya.

Lalu, Fahri mengatakan pernah bersama-sama di DPR dan MPR. Fahri mengaku mengenal scara dekat sekali cita-cita dan perjuangan AM Fatwa sejak awal sehingga kemampuan dan pandangan politiknya. “Dia seorang politisi islam yang memiliki observasi yang sngat luas pada persoalan sejarah, keislaman dan keindonesian,” katanya.

Menurut Fahri, sosok Fatwa itu seperti sisa akhir dari peninggalan politik islam dari masa lalu, karena itulah kepergiannya mmbuat kehilangan orang yang pernah sangat ada di pentas politik di negeri ini. Mudah-mudahan, kata dia, anak muda banyak mengambil banyak contoh dari Fatwa karena sesungguhnya dia merupakan politisi yang sangat senior dan meninggalkan bekas yang sangat mendalam.

“Terakhir saya ada perbedaan pendapat tentang KPK sampai beliau sangat marah. Tapi entah mengapa pada hari berikutnya beliau mengirim surat meminta maaf, dan saya pun bertamu. Dalam kesempatan itu beliau ada permintaan khusus terkait masa depan politik saya pasca PKS tetapi saya mendiskusikannya secara santai,” pungkas Fahri.

Nailin In Saroh