Ayu Hanny (26) saat membaca Buku 'Bocah Kebon Dari Deli' di toko buku Gramedia Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/10). Foto: Aktual.com
Ayu Hanny (26) saat membaca Buku 'Bocah Kebon Dari Deli' di toko buku Gramedia Grand Indonesia Mall, Jakarta Pusat, pada Rabu (20/10). Foto: Aktual.com

Jakarta, Aktual.com – Sejak diluncurkannya buku biografi berjudul “Bocah Kebon Dari Deli” yang berisi perjalanan hidup Prof. Dr. Supandi, SH, M.Hum, beragam tanggapan pun bermunculan. Buku itu banyak menuai pujian dari berbagai pihak. Setidaknya ini yang disampaikan oleh Ayu Hanny (26), perempuan ibu rumah tangga yang membaca buku tersebut.

“Saya sampai merinding membaca buku itu yang tata bahasanya mengalir, enak dibaca dan kisahnya sangat mengharukan sekali,” ujarnya ketika ditemui Aktual.com Rabu (20/10/21) kemarin di toko buku Gramedia Grand Indonesia Mall, Jakarta.

Menurut perempuan berdarah Betawi itu, buku tersebut sangat menginspirasi sekali. “Beragam kesulitan yang dialami Supandi, yang kemudian berhasil membuatnya menjadi pejabat di Mahkamah Agung, itu bukti bagaimana hidup tak boleh menyerah,” paparnya lagi.

Bahkan, sambungnya, kisah perjalanan Supandi berhasil mempertemukan ‘obor keluarga’nya di Pati, Slawi dan Tulungagung dari kota Medan, itu sangat mengharukan sekali. Seperti terungkap dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’, Supandi merupakan anak keturunan dari Raden Matkasan, seorang tumenggung di Keraton Surakarta (Solo). Masa Perang Diponegoro (1825-1830), tatkala Pangeran Diponegoro ditangkap Hindia Belanda dengan tipu muslihat, ribuan pengikutnya kemudian membubarkan diri. Salah satunya kemudian menetap di Desa Tlutup, Juwana, Pati, Jawa Tengah. Disitulah Raden Matkasan melahirkan anak yang bernama Ki Tirtoleksono. Dari Ki Tirtoleksono inilah yang dianggap sebagai salah seorang pendiri ‘Desa Tlutup’ di sana yang menjabat sebagai Ki Lurah. Ki Tirto memiliki beberapa orang anak, yang salah satunya bernama Ki Ibrahim. Inilah kakek kandung Supandi.

Ki Ibrahim ini suatu ketika melarikan diri ke Deli, Sumatera Utara, karena terjadi perkelahian dengan mandor Belanda yang dia campakkan ke mesin penggilingan tebu. Ki Ibrahim kemudian naik kapal dari Semarang, bergabung dengan para pekerja yang hendak di bawa ke Deli, untuk dijadikan pekerja perkebunan Hindia Belanda di perusahaan tembakau Deli yang terkenal hingga Bremen.

Ki Ibrahim kemudian melahirkan salah seorang anak bernama Ngadimun. Inilh ayah kandung Supandi. Ngadimun ini berhasil Kembali menapaki sanad keluarganya dan mengunjung Desa Tlutup, Juwana, Pati tahun 1984, tatkala Supandi telah berhasil menuju ke sana pertama kalinya. Perjalanan Supandi yang sejak kecil sudah ditinggali silsilah keluarganya yang berasal dari Jawa, membuat Supandi tak Lelah menelusuri jejak keluarganya, terutama kakeknya. Berhasillah Supandi kali pertama menginjakkan kaki ke Desa Tlutup, Juwana, ketika dirinya liburan Bersama temannya yang sama-sama berada dalam pelatihan di Akademi Penerbangan di Curug, Tangerang. Dari situlah perjalanan menemukan Kembali jejak keluarganya berhasil dilakoni.

Buku 'Bocah Kebon Dari Deli' di toko buku Gramedia, Jakarta
Buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ di toko buku Gramedia, Jakarta

“Perjalanan itu yang sangat menyedihkan sekali, membuat kita terharu membacanya,” ujar Ayu Hanny memaparkan hal itu.

Tak kalah seru juga, paparnya lagi, kisah perjalanan Mbah Supirah yang berhasil Kembali ke kampung halamannya di Tulungagung pada usia 90 tahun selepas diculik Belanda di usia 14 tahun. “Itu sangat mengharukan sekali, saya sampai menangis,” akunya.

Memang banyak keseruan yang termaktub dalam buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’. Beragam tanggapan dan reaksi datang dari berbagai kalangan. Banyak yang tak kuasa menahan air mata tatkala membaca buku tersebut. “Semua orang saya anjurkan membaca buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’” papar Edy Rahmayadi, Gubernur Sumatera Utara ketika acara bedah buku ‘Bocah Kebon Dari Deli’ beberapa waktu lalu.

(A. Hilmi)