Pekerja Stasiun Pe gisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melayani konsumen yang mengisi Premium di SPBU, Jalan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/10). Selain meminta Kementerian ESDM menghitung secara cermat dinamika harga minyak internasional dan termasuk neraca migas secara keseluruhan dan memastikan daya beli masyarakat tetap menjadi prioritas. Jokowi minta Kementerian Keuangan menganalisis kondisi fiskal secara keseluruhan agar tiap kebijakan yang dikeluarkan, termasuk harga BBM, tetap dalam koridor menjaga kesehatan fiskal. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Tidak ada kemajuan dalam sektor migas lima tahun terakhir. Bahkan keadaan makin memburuk. Ini ditandai oleh beberapa hal indikator utama :

1. Penguasaan Asing Masih Dominan Dalam Migas

Sampai dengan saat ini sebagian besar investasi dalam usaha hulu migas masih didominasi modal asing. Produksi minyak sebesar 33% masih dikuasai Chevron Pacific Indonesia (Rokan Block), sebesar 28% Exxon Mobil (Cepu Block), sebesar 9% Total E&P Indonesia, sebesar 13% Other Block swasta, dan hanya 12% dimiliki Pertamina EP.

Sementara produksi gas sebesar 22% Total E&P Indonesie (Mahakam Block), sebesar 22% BP Tangguh, 17% ConocoPhillips (Corridor PSC), 6% Medco E&P Senoro Toili Joint Operating Body (JOB), 3% VICO (Sanga-sanga Block), 4% Kangean Energy Indonesia (Kangean Block), 4% Premier Oil Natuna Sea Block A dan hanya 12% yang dimiliki Pertamina EP Operation Areas. (Sumber : pwc, 2019)

2. Pendapatan Negara Dari Migas Mengecil

Pada tahun 2004 pendapatan Negara dari migas senilai 21% persen dari total pendapatan Negara. Pada tahun 2014 pendapatan Negara dari migas sebesar 14 % dari total pendapatan megara. Pada tahun 2017 pendapatan Negara dari migas hanya tersisa 4% dari pendapatan Negara.

3. Ketergantungan makin besar pada impor migas

Nilai impor migas Indonesua tahun 2018 mencapai USD 30,91 miliar atau senilai Rp. 438,94 triliun. Indonesia memang diuntungkan oleh penurunan harga minyak dalam lima tahun terakhir.

(Abdul Hamid)