Semarang, Aktual.com — Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo akhirnya angkat bicara soal kegagalan ratusan siswa IPA SMAN 3 Semarang yang tak lolos dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016. Dirinya meminta semua pihak menghentikan aksi saling tuding dan menyalahkan.

“Ayo kita mulai mencari solusi terbaik untuk para siswa. Menteri tuding kepala sekolah, kepala sekolah salahkan panitia, siswa demo. Sudahlah hentikan, tidak produktif yang gitu-gitu. Sudah bener itu tim pencari fakta, saya setuju. Yang lain tidak perlu komentar aneh-aneh lagi,” katanya ditemui di Rumah Dinas Gubernur, Puri Gedeh, Jalan Gubernur Budiono, Semarang, Jumat (12/5).‎

Ia mengusulkan beberapa opsi solusi. Pertama melakukan tes simulasi sistem. Artinya menginput ulang data dari siswa SMA 3.

Dari tes itu, kata dia, akan diketahui berapa siswa SMA 3 yang akan lolos SNMPTN, jika tidak ada kesalahan input seperti sebelumnya.

“Kiro-kiro piro to sing sakjane lolos. 100-200 opo piro ben kelihatan yang lolos dan tidak (Kira-kira berapa yang semestinya lulus. 100-200 atau berapa yang kelihatan lulus dan tidak),” katanya.‎

Setelah diketahui jumlahnya, kemudian diusahakan penambahan kuota SNMPTN. Ganjar berharap panitia SNMPTN dan perguruan tinggi mau memahami kasus SMA 3 sebagai sebuah kecelakaan yang membutuhkan penanganan khusus. Dengan menambah kuota, akan menyelamatkan hak siswa dalam memperoleh perlakuan yang adil dalam pendidikannya.

“Kan itu seluruh Universitas Negeri, misal Undip bisa nambah berapa, UGM berapa, dan seterusnya. Dengan penambahan kuota kan tidak ngutik-utik siswa lain yang sudah lolos,” kata dia.

Bersamaan dengan itu, semua pihak menahan diri berkomentar sembari menunggu hasil pekerjaan tim pencari fakta. Jika memang tim menemukan bukti bahwa pihak sekolah yang bersalah, maka kepala sekolah harus bertanggung jawab.

“Kepala sekolah ya mundur dong sebagai wujud tangung jawab. Kalau benar-benar salah lho ya. Kalau tidak ya jangan,” tegasnya.

Di atas semuanya, Ganjar berpesan pada para siswa untuk tidak menganggap kegagalan SNMPTN sebagai bencana yang akan menghapus cerahnya masa depan. Siswa harus yakin bahwa kalau dia betul-betul pintar dan punya kemampuan tinggi, masa depan yang gemilang akan dapat diraih.

“Penemu besar, peneliti yang mengubah dunia, para tokoh sejarah maupun yang sekarang memimpin dunia itu banyak yang tidak lulus kuliah, bahkan SMA tidak lulus. Jadi jangan berkecil hati, tetap semangat, dan kepala tegak. Kalian aset bangsa, jangan biarkan masalah ini menghentikan cita-cita anda,”
tegasnya.

“Bu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) itu jangankan kuliah, SMA saja tidak lulus. Jadi kalau ada siswa juara olimpiade, dapat emas juara penelitian itu tidak boleh menyerah. Masa depan tidak bergantung pada kegagalan kuliah di universitas negeri,” lanjutnya.‎

Terkait sistem SNMPTN, Ganjar meminta Kemenristekdikti untuk mengevaluasi menyeluruh. Sistem harus benar-benar clear dan sumber daya manusia yang mengawal SNMPTN ditingkatkan sehingga kejadian SMA 3 Semarang tidak terulang lagi.

(Arbie Marwan)