Gatot menjelaskan, kondisi demikian membuat Gus Dur fokus untuk menghindari perpecahan. Terlebih, Indonesia memiliki banyak keragaman di tengah kehidupan masyarakatnya.

“Karena sudah ada contoh, hanya karena agama, Sudan negara pecah jadi dua negara. Yugoslavia hanya karena beda bahasa, pecah menjadi negara-negara kecil. Karena agama, bahasa dan ekonomi, Uni Soviet pecah jadi 15 negara,” sebut Gatot mencontohkan.
“Sedangkan Indonesia, kita beda kulit, beda rambut, agama, pulau, ekonomi, beda suku,  beda bahasa, beda status sosial, begitu banyak (perbedaan). Kalau enggak ada bhineka tunggal Ika, Indonesia sudah lama pecah. Itulah Gus Dur, pemersatu bangsa,” tutupnya yang disertai tepuk tangan hadirin.

Teuku Wildan A

(Wisnu)