Jakarta, Aktual.com — Kurang lebih 700 orang telah meninggal dunia dalam bencana gelombang panas di provinsi Sindh, Pakistan Selatan.

Sementara itu, kamar-kamar mayat kebanjiran jenazah dan membuat rumah sakit kewalahan membantu orang-orang yang masih hidup.

Sebagian besar yang wafat dilaporkan di wilayah Karachi, kota terbesar negara tersebut dan Pusat Perniagaannya.

Pemerintah provinsi Sindh mengeluarkan keadaan darurat medis setelah jaringan kabel transmisi listrik macet, yang mengakibatkan pemadaman luas sementara suhu naik ke atas 43 derajat Celsius.

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Perdana Menteri (PM) Pakistan Nawaz Sharif mengatakan, bahwa Badan Pengelola Bencana Nasional telah diperintahkan memulai usaha pertolongan.

Sedangkan, Ulama tekemuka Pakistan mengeluarkan, fatwa yang membolehkan sebagian umat Islam di Karachi untuk tidak berpuasa Ramadan karena gelombang hawa panas yang dahsyat.

Fatwa tersebut dikeluarkan, pasca ratusan warga Karachi tewas akibat gelombang hawa panas.

“Bila dokter ahli mengatakan, bahwa hidupmu terancam karena hawa panas, atau beberapa kondisi yang membuat Anda menjadi lebih buruk karena berpuasa, maka Anda bisa meninggalkan puasa setiap hari,” kata Naeem, demikian lapor laman BBCNews, pada Kamis (25/6).

Suhu di Karachi memang sangat panas, mencapai hingga 113 Fahrenheit atau 45 derajat Celcius. Suhu yang sedemikian panas tersebut membuat kondisi warga Karachi memburuk.

Ditambah lagi, matinya tenaga listrik menyebabkan kipas angin dan air conditioner (AC) tak bisa dipakai. Sejauh ini, lebih dari 800 warga dilaporkan sudah tewas.

“Kondisi itu tergantung kondisi kesehatan dan bagaimana tubuh Anda bereaksi terhadap panas, tidak berlaku untuk semua orang,” ujar Naeem.

Tak semua dokter bisa mengeluarkan keputusan seseorang bisa meninggalkan puasa atau tidak.

“Namun, hanya dokter religius dan profesional yang dapat melihat kondisi Anda.”

Naeem menyakini, bahwa fatwa yang dia keluarkan itu tidak akan mengundang kontroversi. Alasannya, fatwa itu dia keluarkan dengan mempertimbangkan nyawa manusia yang terancam oleh gelombang hawa panas yang menyerang Karachi.

“Saat hidup terancam, ketika tubuh kita butuh asupan, kemudian syariat pun mengizinkan kita makan babi. Demikian pula jika Anda mengidap diabetes atau secara medis mengalami dehidrasi, Anda tidak harus berpuasa,” jelas Naeem.

Artikel ini ditulis oleh: