Pengunjung mencoba fitur fitur baru yang ada pada smartphone LG G4 Stylus saat ekshibisi menandai resminya pemasaran perdana di Indonesia, Ekshibisi yang berlangsung di Plaza Ayodya East Mall, Grand Indonesia Jakarta Jumat (4/9). LG Mobile Communications Indonesia mematok harga resmi pada Rp 2.999.000 untuk smartphone yang memiliki layar paling lebar 5.7 inch dengan kenyamanan pena stylus dan sensor kamera besar yang menjadi andalan.Smartphone LG premium dengan kamera bersensor 13 MP dengan dukungan laser Auto Focus dan baterai 3.000 mAh bisa memberikan kepuasan bagi kegiatan selfie dan ketangguhan. AKTUAL/EKO S HILMAN

Jakarta, Aktual.com – Lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan Greenpeace menyatakan model bisnis “smartphone” atau telepon pintar tidak ramah lingkungan, karena meninggalkan jejak rusak dari sampah produksi telepon pintar selama 10 tahun terakhir.

Menurut laporan Greenpeace Amerika Serikat yang diterima, Sabtu (4/3), sekitar 968 Terawatt-hour (TWh) telah digunakan untuk memproduksi smartphone sejak tahun 2007, hampir setara dengan suplai listrik untuk India selama setahun.

Selain itu, Greenpeace mengingatkan bahwa perangkat tersebut berkontribusi secara signifikan kepada 50 juta metrik ton sampah elektronik (“e-waste”) yang ditaksir bisa terjadi pada 2017.

Sedangkan sejumlah temuan kunci lainnya adalah sebanyak 7,1 miliar telepon pintar telah diproduksi sejak 2007.

Ditemukan pula bahwa hanya 2 dari 13 model ponsel yang telah dikaji oleh Greenpeace USA dan iFixit mempunyai baterai yang bisa diganti dengan mudah.

Hal ini berarti konsumen didorong untuk mengganti keseluruhan perangkat ketika usia baterai mulai habis. Di AS, masa pakai telepon pintar rata-rata 26 bulan.

Sementara perlu diingat pula bahwa kepemilikan smartphone ditaksir bisa naik menjadi 6,1 miliar unit pada tahun 2020, atau sekitar 70 persen dari populasi global.

“Bila semua smartphone yang diproduksi selama satu dekade terakhir masih berfungsi baik, maka itu akan cukup untuk setiap orang di planet ini. Konsumen didorong untuk meng-upgrade model ponselnya terus-menerus sehingga rata-rata ponsel hanya digunakan dua tahun lebih. Imbasnya, bumi menjadi rusak,” kata Juru Kampanye Korporasi Senior Greenpeace Elizabeth Jardim.

Menurut Elizabeth ketika mempertimbangkan semua material dan energi yang dibutuhkan untuk membuat perangkat ini, masa penggunaan yang pendek, tingkat daur ulang yang rendah, maka cukup jelas bahwa model seperti itu tidak boleh dilanjutkan.

Untuk itu, ujar dia perlu perangkat telepon pintar yang bisa digunakan dalam waktu lama, serta penerapan model produksi melingkar yang baru.

Greenpeace menyerukan kepada semua pelaku sektor IT untuk menerapkan model produksi yang melingkar untuk mengatasi akar permasalahan yang menyebabkan masalah lingkungan ini.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: