Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf

Jakarta, aktual.com – Khatib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa NU harus bisa menjadikan energi generasi muda NU lebih bermakna.

“Generasi muda NU ini energinya itu luar biasa besar, sampai berlebih-lebihan. Nah, bagaimana kami sekarang mengajak mereka untuk menyalurkan energi ini menjadi sesuatu yang sungguh-sungguh bermakna,” kata Gus Yahya, sapaan beliau, kepada wartawan usai peluncuran buku ‘Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama’ di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Rabu [11/3].

Gus Yahya menambahkan bahwa bermakna itu bukan hanya bagi intern NU sendiri, namun juga bagi Indonesia dan bagi kemanusiaan dunia.

Menurut Gus Yahya, kuncinya bukan pada kemandirian atau kebesaran NU sendiri, tapi harus dilatarbelakangi dengan kerja sama dengan organisasi yang lain sehingga tercapai segala tujuan yang baik bagi kemaslahatan umat.

“Bukannya mau jadi besar sendiri, dan menakutkan yang lain. Enggak boleh berpikir begitu. NU ini harus mau bekerja sama dengan siapapun yang itikadnya sama baiknya, dan punya kepentingan yang sama,” kata Gus Yahya.

Bekerja sama itu bukan juga berarti generasi muda NU itu mau dibayar untuk disuruh-suruh, kata Gus Yahya, perjuangan kemanusiaan dan kemajuan Indonesia adalah cita-cita bersama yang harus dilakukan dengan ikhlas.

Karena itu, jika ditanya apakah NU sudah mencapai kesuksesan dalam perjuangan besarnya, Gus Yahya mengatakan hal itu baru bisa dikatakan sukses apabila generasi muda NU mampu membangun kerja sama yang baik dengan semua pihak dalam mewujudkan cita-cita NU.

“Ini kita bicara soal kesadaran publik yang luas. Spektrum masyarakat yang luas sekali, dan tidak mudah. Dan ini bukan hanya NU sebenarnya tapi yang lain juga,” kata Gus Yahya.

Dalam derasnya arus perubahan dunia saat ini, Gus Yahya mengatakan bahwa semua organisasi akan mengalami kekalutan jika tidak mampu bekerja sama dengan yang lainnya.

Ia pun mengakui, konstruksi organisasi NU juga mesti berubah dari yang awalnya dikerjakan dengan banyak isu dan masalah sehingga lupa pada tujuan yang mendasar, seperti menyiapkan bekal pendidikan karakter dan mental bagi generasi muda.

“Sejak 1952 saya katakan, konstruksi organisasi NU ini masih belum berubah,” kata Gus Yahya.

Ke depan, ia menyarankan agar NU memiliki orang-orang yang ditugaskan untuk berpikir untuk mewujudkan tujuan yang mendasar sehingga meskipun banyak isu dan masalah yang dikerjakan, tetap tujuan mendasar tidak terlupakan.

Karena apabila hal-hal mendasar tidak ada yang memikirkan, maka orang akan terus memikirkan solusi formalitas yang tidak sungguh-sungguh memberi hasil yang nyata.

“Seringkali kita lupa tentang apa yang mendasar. Harus ada orang yang berpikir mengenai hal-hal mendasar ini, dan kemudian mengupayakan satu strategi supaya masalah-masalah yang dihadapi ini bisa dilacak dari akarnya, sehingga betul-betul terpecahkan masalahnya,” kata Gus Yahya.

(Eko Priyanto)