Jakarta, Aktual.co —Program Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Masyarakat berhasil memproduksi secara massal ikan hias asli Indonesia jenis pelangi (melanotaenia) yang hampir punah.
Tak tanggung-tanggung, berkat program tersebut, ikan pelangi berhasil diproduksi hingga 126.000 ekor/tahun.
“Hasilnya, ikan hias yang hampir punah pun seperti jenis pelangi justru dapat dibudidayakan dan diproduksi massal,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan (Balitbang KP) Achmad Poernomo dalam siaran pers, Minggu (9/11).
Menurut dia, budi daya ikan hias asli Indonesia dikembangkan dengan konsep budi daya yang ramah lingkungan.
Ia mengatakan, melalui perjalanan panjang sejak tahun 2000 oleh Tim peneliti Balitbangdias bekerja sama dengan Politeknik Sorong dan IRD, mengembanga ikan pelangi dan pengembangan budi daya dilakukan secara insitu maupun eksitu.
“Secara ekonomi kegiatan usaha tersebut sangat menguntungkan. Jika dikalkulasikan dengan harga pasar lokal ikan sebesar Rp1000/ekor, maka pembudi daya ikan pelangi akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp92 juta/tahun,”katanya.
Di samping itu di pasar luar negeri harga indukan umur 5-6 bulan bisa mencapai 7-14 dollar AS per ekor. Hingga hasil sensus pertanian menunjukkan pendapatan terbesar sektor perikanan berasal dari pembudi daya ikan hias sebesar Rp50 juta/tahun.
“Ini membuktikan bahwa ikan hias ini, tidak hanya mempunyai prospek yang bagus untuk meningkatkan taraf hidup akan tetapi dapat menjadi catatan yang penting bagi kita sebagai negara besar yaitu ikan pelangi ini identitas bangsa Indonesia di mata dunia,”kata Achmad.
Ia menyebutkan, di dunia ikan pelangi, dapat ditemukan di Madagaskar, Australia, dan Papua Nugini, dan Indonesia yaitu di Provinsi Papua Barat dan Sulawesi.
Dari 76 jenis ikan pelangi yang ditemukan di dunia, ikan pelangi asal Papua yaitu kurumoi (melanotaenia parva) memiliki warna yang sangat indah.
“Ikan pelangi tersebut populer dan telah dipasarkan ke mancanegara, sebagian besar pemenuhan pasar masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam,”katanya.
Data Balitbang, KKP telah menelurkan berbagai paket teknologi yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat luas yakni aplikasi pakan berbahan baku tepung wortel yang mampu meningkatkan keuntungan pembudidaya antara Rp5-10 juta setiap kolamnya.
Selain itu juga ikan hias botia di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan dan Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dan Kabupaten Belitung Timur.
Indonesia telah mengekspor perdana 20.000 ekor ikan senilai Rp80 juta. Sementara pangsa pasarnya adalah Thailand, Yordania, Iran, Kuwait, Jerman, India, Aljazair, Italia, dan Rusia serta Eropa.
Pada Desember 2014, untuk kali pertama Indonesia akan mengekspor ikan hias botia ke Singapura, sebanyak 10 ribu ekor atau senilai Rp40 juta

()

()