Seorang karyawan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) memperlihatkan emas batangan di gerai Antam, Gedung Sarinah, Jakarta Pusat, Selasa (27/11/2018). Logam mulia atau emas batangan milik Antam hari ini dijual Rp 652.000/gram. Nilai ini turun dibandingkan Senin (26/11/2018) di Rp 653.000/gram. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Harga emas dunia anjlok tajam hingga 3,7 persen ke USD1.458,41/troy ounce (Oz). Tercatat dalam lima hari perdagangan, harga logam mulia ini melemah empat kali hingga mencapai level terlemah dalam tiga bulan terakhir.

Para investor mulai melepas kepemilikan emas setelah mendengar kabar ditandatanganinya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Meskipun pihak AS kemudian masih membantah bahwa terjadi penghapusan tarif, dan sempat menyebut kabar tersebut sebagai propaganda China.

Selain itu, investor juga mulai mendengar kabar serta bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang kemungkinan menghentikan periode pemangkasan suku bunga.

Pada pekan lalu, saat The Fed memangkas suku bunga 25 basis poin menjadi 1,5-1,75 persen, sang ketua Jerome Powell mengindikasikan suku bunga tidak akan dipangkas lagi, kecuali jika perekonomian Paman Sam kembali memburuk.

Total sepanjang pekan ini emas anjlok 3,7 persen ke USD1.458,41/troy ons yang merupakan level terlemah sejak 5 Agustus lalu.

Sebenarnya, selama sepekan ini kesepakatan dagang AS-China mengalami pasang surut. Mengutip CNBC International Kamis (7/11/19), Juru Bicara Kementerian Perdagangan China Gao Feng mengatakan baik AS maupun China setuju untuk membatalkan rencana pengenaan berbagai bea masuk. Perundingan yang konstruktif dalam dua pekan terakhir membuat kedua negara sudah dekat dengan kesepakatan damai dagang fase I.

Di sisi lain, AS membantah pernyataan dari China tersebut. Reuters memberitakan penghapusan bea masuk menimbulkan pertentangan di internal pemerintahan AS.

Beberapa sumber mengungkapkan bahwa terjadi penolakan terhadap rencana tersebut. Peter Navarro, Penasihat Perdagangan Gedung Putih, juga menegaskan bahwa belum ada kesepakatan soal penghapusan bea masuk. Dia menilai China melakukan klaim sepihak.

Hal tersebut ditegaskan sendiri oleh Presiden AS, Donald Trump, juga mengatakan ia tidak setuju untuk membatalkan bea masuk, sebagaimana dilaporkan CNBC International.

Meski demikian pelaku pasar masih optimis jika kesepakatan tersebut akan segera ditandatangani, dan perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia tersebut segera berakhir.

(Zaenal Arifin)