Ilustrasi - Kilang minyak Aramco di dekat Khurais, Riyadh, Arab Saudi. ANTARA/REUTERS/Ali Jarekji/aa.

Tokyo, aktual.com – Minyak mentah berjangka AS jatuh pada Selasa (29/3) pagi, memperpanjang kerugian dari hari sebelumnya karena Ukraina dan Rusia menuju pembicaraan damai dan di tengah kekhawatiran penurunan permintaan bahan bakar di China setelah pusat keuangan Shanghai ditutup untuk mengekang lonjakan kasus COVID-19.

Minyak mentah berjangka Brent turun 1,07 dolar AS atau 1,0 persen menjadi diperdagangkan di 111,41 dolar AS per barel pada pukul 01.07 GMT, setelah sempat turun ke level 109,97 dolar AS.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS mencapai level terendah 103,46 dolar AS pada awal perdagangan Asia dan turun 79 sen atau 0,8 persen, menjadi diperdagangkan di 105,17 dolar AS per barel. Kedua kontrak acuan kehilangan sekitar 7,0 persen pada Senin (28/3).

Ukraina dan Rusia akan bertemu di Istanbul pada Selasa untuk pembicaraan damai pertama mereka dalam lebih dari dua minggu. Sanksi yang dikenakan pada Rusia setelah menginvasi Ukraina telah membatasi pasokan minyak dan awal bulan ini mengirim harga ke level tertinggi 14 tahun.

Rusia menyebut tindakannya di Ukraina sebagai “operasi militer khusus” untuk melucuti senjata tetangganya.

“Harga minyak berada di bawah tekanan lagi pada ekspektasi untuk pembicaraan damai antara Ukraina dan Rusia, yang dapat mengarah pada pelonggaran sanksi atau penghindaran minyak Rusia oleh Barat,” kata Hiroyuki Kikukawa, manajer umum penelitian di Nissan Securities.

“Gencatan senjata yang berhasil juga dapat meningkatkan prospek menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran,” tambahnya.

Mengimbangi kekhawatiran tentang pasokan yang ketat, penguncian dua tahap Shanghai selama sembilan hari diperkirakan akan menekan permintaan bahan bakar di China, importir minyak terbesar dunia. Pusat keuangan negara itu menyumbang sekitar 4,0 persen dari konsumsi minyak China, kata analis ANZ Research.

Pasar juga menunggu pertemuan yang direncanakan pada Kamis (31/3) oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+.

Kelompok itu kemungkinan akan tetap pada rencana untuk sedikit peningkatan produksi minyak pada Mei, beberapa sumber yang dekat dengan kelompok itu mengatakan, meskipun ada lonjakan harga karena krisis Ukraina dan seruan dari Amerika Serikat dan konsumen lain untuk pasokan lebih banyak.

Permintaan di seluruh dunia telah meningkat hampir ke tingkat sebelum pandemi, tetapi pasokan terhambat, karena OPEC+ lambat memulihkan pengurangan pasokan yang diberlakukan selama pandemi pada 2020.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)