Ilustrasi Seorang Sufi

Jakarta, Aktual.com – Allah SWT telah menetapkan rezeki kepada setiap hamba-hambanya tanpa sedikitpun dikurangi. Maka dari itu, sudah selayaknya seorang hamba tidak terlalu pusing memikirkan hal tersebut.

Sebagaiman kisah dari Hatim al-Asham yang diberikan oleh Allah SWT rezeki karena ia mampu berprasangka baik dan bertawakkal kepada Allah SWT saat ia meninggalkan keluarganya untuk pergi haji, berikut kisahnya:

Hatim al-Asham termasuk di antara pembesar orang-orang shaleh. Hatinya sudah rindu ingin menunaikan haji pada suatu tahun di antara tahun-tahun yang ada. Namun ia belum sama sekali memiliki biaya untuk berhaji.

Bahkan saat itu tidak diperbolehkan mengadakan perjalanan haji, bahkan haji saat itu menjadi tidak wajib karena tidak meninggalkan biaya hidup bagi anak-anaknya dan tanpa keridhaan mereka.

Ketika waktu yang berhaji telah tiba, puterinya melihat diri ayahnya bersedih dan menangis, karena keshalehan yang terdapat pada diri sang puteri tersebut. Ia berkata kepadanya, “Wahai ayahku, gerangan apa yang membuat engkau menangis?

“Haji telah tiba,” jawab Hatim.

“Lalu mengapa engkau tidak pergi berhaji?” tanya sang puteri.

“Nafkah, membebani diriku,” jawab sang ayah.

“Allah yang akan memberikan engkau rezeki,” jawab si puteri.

“Lalu apa nafkah kalian?” tanya sang ayah lagi.

“Allah yang akan memberikan kami rezeki,” jawab sang puteri.

“Tetapi perkaranya kembali kepada ibumu,” kata sang ayah.

Pergilah puterinya tersebut untuk mengingatkan Sang ibu. Hingga akhirnya, ibu dan anak-anak lelakinya berkata kepada Hatim, “Pergilah berhaji, Allah SWT yang akan memberikan kami rezeki,”

Hatim pun berangkat berhaji. Ia hanya meninggalkan nafkah untuk tiga hari buat mereka.

Ia berangkat haji sementara tidak ada sepeser harta pun yang ada pada dirinya yang dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhannya. Kemudian ia berjalan di belakang kafilah dagang agar dirinya merasa aman saat berhaji.

Di awal perjalanan, seekor kalajengking menyengat pemimpin kafilah tersebut, membuat mereka bertanya siapa yang dapat meruqyah dan mengobatinya. Mereka pun mendapati Hatim. Lantas ia meruqyahnya sehingga Allah menyembuhkan pemimpin kafilah dari kebinasaannya.

Pimpinan kafilah berkata, “Nafkah untuk dirimu dari pulang sampai pergi, saya yang menanggungnya,”

Hatim pun berdo’a, “Ya Allah, ini adalah pemeliharaan-Mu kepadaku, maka perlihatkanlah pemeliharaan-Mu kepada keluargaku.”

Sementara itu, waktu telah berlalu selama tiga hari sementara nafkah yang ditinggalkan untuk anak-anaknya telah habis. Mulailah rasa lapar menggerogoti mereka, sehingga mereka mulai mencela si anak perempuan.

Namun ia hanya tertawa dan Mereka berkata, “Apa yang membuatmu tertawa sementara rasa lapar hampir membunuh kita?”

Ia balik bertanya, “Ayah kita ini Razzaq (Sang Pemberi Rezeki) atau pemakan rezeki?”

“Pemakan rezeki, karena ar-Razzaq itu hanyalah Allah,” jawab mereka.

“Kalau begitu telah pergi pemakan rezeki dan tinggallah ar-Razzaq,” jawab anak perempuan.

Ketika ia tengah berbicara dengan mereka, tiba-tiba pintu diketuk. “Siapa di pintu?” tanya mereka.

“Sesungguhnya Amirul Mukminin meminta air minum kepada kalian,” jawab si pengetuk pintu.

Kemudian, mereka pun memenuhi gelas dengan air. Maka,  minumlah Sang Khalifah, setelah minum ia merasakan kelezatan pada air tersebut yang belum pernah dirasakannya.

Lantas, Ia bertanya, “Dari mana kalian mendapatkan air ini?”

“Dari rumah Hatim,” jawab mereka.

“Kalian panggil dia supaya aku dapat membalas budinya,” perintah Khalifah.

“Ia sedang berhaji,” jawab mereka.

Maka Amirul Mukminin melepas ikat pinggangnya yang ikat pinggang tersebut terbuat dari kain tenun mewah yang bertabur permata, dan seraya berkata, “Ini untuk mereka,”.

Kemudian ia berkata, “Siapa yang mencintaiku?” Khalifah bermaksud agar diikuti oleh Menteri-menteri dan bawahannya agar ikut serta membantu keluarga Hatim.

Maka tiap menteri dan pedagang melepaskan ikat pinggangnya untuk mereka hingga menumpuklah ikat pinggang.

Kemudian salah seorang pedagang membeli semua ikat pinggang tersebut dengan emas sepenuh rumah yang dapat mencukupi kebutuhan mereka hingga ajal menjemput, lalu mengembalikan lagi ikat pinggang kepada para pemiliknya yaitu Khalifah dan Menteri-menterinya.

Mereka membeli makanan dan tertawa ceria. Namun si anak perempuan malah menangis. Sang ibu berkata kepadanya, “Kenapa dirimu sangat mengherankan wahai puteriku. Ketika kami menangis karena lapar, kamu malah tertawa. Namun ketika Allah telah memberikan jalan keluar kepada kita, kamu malah menangis?!”

Sang anak menjawab, “Makhluk yang tidak menguasai manfaat maupun madharat untuk dirinya sendiri ini (yaitu Khalifah) melihat kepada kita dengan pandangan iba yang mencukupi kita dari kematian, lalu bagaimana kiranya dengan Raja para raja?!”

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)