Ibarat pepatah “Jauh Panggang dari Api” begitulah kondisi ekonomi Indonesia selama era Presiden Jokowi dalam empat tahun terakhir ini. Janji manis yang ia dengungkan saat kampanye Pilpres 2014 lalu, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7%, ternyata sampai saat ini hanya stagnan di kisaran 5%-an.
Sepertinya apa yang diragukan para pengamat mengenai ketidakseriusan pemerintah untuk membangun kilang, serta tunduknya pemerintah pada kepentingan mafia impor minyak, menunjukkan indikasi pada kebenaran jika melihat kasus rencana pembangunan kilang Tuban berada diambang pembatalkan.
“Langkah PBB dan Yusril masuk ke dalam koalisi petahana sangatlah realistis juga, secara hitung-hitungan politik Yusril memiliki pandangan peluang perahana menang besar. Walaupun sebenarnya juga bisa dikalahkan,” kata Khikmawanto, saat dihubungi aktual.com, Kamis (8/11/2018).
Reaksi atas dua pernyataan itu juga beragam. Ada aksi protes, hingga pelaporan Prabowo ke kepolisian oleh seorang warga. Dua kata ini diucapkan oleh orang yang berbeda. Situasi dan kondisi serta konteksnya pun tentu berbeda pula.
“Usulan rata-rata asumsi nilai tukar rupiah pada Rp15.000/1USD didasari oleh perkembangan terkini besaran nilai tukar rupiah, terutama dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi AS dengan normalisasi kebijakan moneter dan kebijakan fiskal ekspansif ditambah faktor risiko ketidakpastian global akan mendorong pergerakan arus modal kembali ke negara maju. Kondisi ini turut berdampak terhadap kinerja perekonomian domestik, khususnya kinerja nilai tukar rupiah,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta.
mendukung itu tidak cukup dengan hanya komitmen saja, harus ada suatu langkah nyata. Saya berharap presiden mau dan serius untuk melihat perkara ini dengan benar






















