Hong Kong, Aktual.com – Warga Hong Kong bersiap memperingati tragedi berdarah Lapangan Tiananmen Square, China, yang terjadi pada 1989, dengan menyalakan lilin di seluruh wilayah kota setelah kepolisian setempat melarang acara peringatan pada tahun ini karena pandemi COVID-19.

Biasanya, upacara menyalakan lilin untuk memperingati korban tragedi Tiananmen diadakan rutin tiap tahun oleh warga Hong Kong.

Peringatan tahun ini dinilai dapat menambah ketegangan di Hong Kong, mengingat Beijing bulan lalu mengesahkan aturan keamanan baru untuk kota semi otonom itu. Beberapa pihak meyakini beleid itu dapat membelenggu kebebasan di Hong Kong, salah satu wilayah yang jadi pusat keuangan dunia.

Warga Hong Kong akan memperingati tragedi berdarah itu saat banyak media China dan pejabat di Beijing memberi dukungan pada unjuk rasa yang menentang aksi brutal kepolisian di Amerika Serikat.

Upacara menyalakan lilin untuk memperingati tragedi Tiananmen di Hong Kong pada tahun lalu terpusat di Victoria Park dan dihadiri oleh puluhan ribu orang.

Namun, kepolisian minggu ini mengatakan pengumpulan massa berisiko mengancam sektor kesehatan, mengingat otoritas setempat baru saja mengumumkan kemunculan kasus penularan COVID-19 lokal dalam beberapa pekan terakhir.

Malissa Chan, warga berusia 26 tahun yang bekerja di sektor properti, mengatakan ia akan tetap memperingati tragedi itu di taman Victoria Park.

“Saat aparat ingin menekan kami, akan ada lebih banyak alasan untuk bersuara,” kata dia.

Lee Cheuk-yan, ketua penyelenggara upacara peringatan, mengatakan warga Hong Kong akan menyalakan lilin di seluruh daerah kota tahun ini.

Banyak pihak mengunggah ajakan untuk menyalakan lilin di tempat-tempat tertentu pada petang hari dan “di mana pun kalian berada” pada pukul 20:00 waktu setempat. Aksi itu dilanjutkan dengan mengheningkan cipta selama satu menit.

Beberapa warga berencana mengadakan upacara peringatan di gereja dan kuil. Pasalnya, otoritas setempat telah kembali mengizinkan acara keagamaan diadakan dengan menerapkan aturan jaga jarak.

Warga Hong Kong kemungkinan akan meletakkan bunga di sepanjang tepi sungai, sementara beberapa seniman berencana menggelar pertunjukan teater singkat.

Otoritas di Hong Kong melarang pertemuan lebih dari delapan orang. Pejabat terkait mengatakan kebijakan itu tidak memiliki kepentingan politis.

Sementara itu, China belum pernah mengumumkan total korban jiwa akibat pembantaian yang dilakukan aparat keamanan terhadap warga sipil di Lapangan Tiananmen pada 3 Juli 1989. Beberapa organisasi hak asasi manusia dan beberapa saksi memperkirakan korban jiwa dapat mencapai ribuan orang.

Data resmi pemerintah menyebutkan 300 orang tewas akibat insiden tersebut dan sebagian besar merupakan tentara. Laporan itu menyebutkan hanya 23 pelajar yang terbunuh saat kejadian itu.

Sumber: Reuters (Antara)

(Warto'i)