Syekh Muhyiddin ibn Arabi

Jakarta, Aktual.com– Siapa yang tidak mengenal nama Syekh Muhyiddin ibn Arabi? Beliau merupakan seorang ulama yang sangat disegani pada masanya hingga sekarang, berkat buah pikir serta keilmuannya dalam berbagai bidang ilmu Islam khususnya ilmu Tasawuf.

Walaupun begitu, Syekh Muhyiddin ibn Arabi memiliki banyak sekali ulama-ulama yang mengkritik bahkan mencela habis-habisan. Sebab, terdapat beberapa pemikiran beliau yang menurut para ahli eksoteris (lahiriah) dianggap sesat salah satunya adalah Wahdatul Wujud.

Sebagaimana yang dikutip oleh Zainul Maarif dalam bukunya yang berjudul Kitab Syajarah al-Kawn Ibnu Arabi bahwa Osman Yahya mengatakan bahwa setidaknya ada sekitar 137 mufti yang menyerang dan mengkritik Ibnu Arabi. Para Mufti penyerang Ibn Arabi antara lain adalah Ibnu Shalah (w 643H), Ibnu Taimiyah (w 728H), Ibnu Qayyim al-Jauziyah (w. 751 H, dan Burhanuddin al-Biqa’I (w. 885H).

Sedangkan untuk pembela dan pendukung Ibn Arabi sekitar 27 mufti. Pakar fiqih di zaman Ibnu Arabi yang bisa dipertimbangkan pendapatnya ialah Syamsuddin al-Khazraji dan Izzuddin bin Abdissalam. Sementara pakar tasawuf-falsafi saat itu yang perlu dipertimbangkan pendapatnya ialah ibnu Athailah as-Sakandari dan Suhrawardi.

Syamsuddin al-Khazraji adalah hakim agung mazhab Syafi’i di masa Ibnu Arabi hidup. Walaupun beliau merupakan seorang hakim agung, akan tetapi beliau berkhidmah kepada Ibnu Arabi layaknya seorang hamba di depan tuannya.

Izzuddin bin Abdissalam adalah seorang pemimpin para ulama fikih di masanya. Pada awalnya Izzuddin berfatwa bahwa Ibnu Arabi adalah seorang Zindiq. Namun, ia berubah pandangan bahkan menganggap Ibn Arabi adalah seorang wali kutub yang istimewa setelah mempelajari dan mengetahui secara langsung kehidupan dan pemikiran Ibn Arabi.

Bahkan Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari seorang ulama besar yang pemikirannya masih dipelajari hingga sekarang memuji Ibnu Arabi secara eksplisit. Suhrawardi juga memuji Ibn Arabi dengan sangat baik bahkan beliau mengatakan bahwa Ibnu Arabi adalah penggagas falsafah iluminasi (hikah al-Isyraq).

Suhrawardi juga bersaksi bahwa Ibnu Arabi adalah orang yang sempurna dan mendalam ilmunya serta memiliki banyak keramat.

Testimoni yang diberikan oleh beberapa pakar terkait dengan Ibnu Arabi cukup menjadi pertimbangan untuk memberikan apresiasi positif kepada dirinya dan menyangkal pendapat-pendapat yang mengatakan bahwa Ibnu Arabi sesat.

Dikalangan Ahlussunnah, tidak semua ucapan Ibn Arabi boleh diikuti. Oleh karena itu, sufi-sufi yang secara amali boleh diikuti dan diyakini sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadits adalah seperti Imam Junaid al-Baghdadi, Imam Harits al-Muhasibi, Imam al-Ghazali, Imam Abul Hasan asy-Syadzili, dan lain-lain.

Berikut nama beberapa pembenci Ibnu Arabi beserta karangannya:

Pertama, Muhammad bin Umar Ali al-Kamili, Risalah fi Dzammi Ibnu Arabi;

Kedua, Abdul Latif bin Abdullah as-Su’udi, Bayan Hukm ma fi al-Fushush min al-I’tiqad al-Mafsudah;

Ketiga, Ibrahim bin Umar al-Biqai, Tahdzir al-Ibad min Ahl al-inad bi Bid’at al-Ittihad dan Tanbih al-Ghabiy ‘ala Tafkir Ibnu Arabiy.

Sedangkan pembela beliau, yaitu:

Pertama, Sirajuddin Umar bin Ismail bin Ahmad al-Hindi, Lawami’ al-Anwar fi ar-Rad ‘ala Man Ankara ‘Ala al-Arifin Lathaif al-Asrar;

Kedua, Abdul Wahab asy-Sya’rani, Al-Qaul al-Mubin fi ar-Rad ‘an asy-Syaikh Muhyiddin;

Ketiga, Jalaluddin as-Suyuthi, Tanbih al-Ghabi bi Tabriah bin ‘Arabi;

Keempat, Abdullah ash-Shalahi, Miftah al-Wujud al-Asyhar fi Taujih Kalam asy-Syaikh al-Akbar.

(Arie Saputra)