Ilustrasi- Ibnu Arabi

Jakarta, Aktual.com– Ibnu Arabi, memiliki nama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Hatim ath-Tha’i. Dengan begitu beliau memiliki nama asli Muhammad sementara Ibnu Arabi adalah nama terkenalnya.

Ath-Tha’i merupakan nama suatu kabilah yang terkenal sebagai kabilah intelek dan heroik sejak era pra-Islam hingga pasca-Islam. Abdullah bin Hatim merupakan pendiri kabilah ath-Tha’I yang dikenal dengan kepahlawanan, loyalitas pada nilai dan kecerdasannya dibidang ilmu pengetahuan.

Dengan begitu Ibnu Arabi yang memiliki kecerdasan, kedermawanan, dan bakat bersyair tidak lain semua itu keturunan dari nenek moyang dan bentukan keluarganya. Beliau lahir dari keluarga yang sangat saleh dan taat kepada Allah SWT.

Ayah beliau Ali bin Muhammad al-Hatimi ath-Tha’i adalah pemuka dibidang fikih hadits dan tasawuf yang saleh, zuhud, bertakwa, rajin membaca al-Quran, dan memintanya mengikut kebiasaan sang ayah itu. sedangkan ibunya bernama Nur adalah perempuan yang shaliha, takwa dan wara’.

Beliau lahir hari Senin, 17 Ramadhan 560 H atau bertepatan pada tanggal 28 Juli 1165 M di Murcia, Andalusia (Spanyol) Tenggara. Pada saat itu, Murcia dipimpin oleh Sultan Abu Abdullah Muhammad bin Sa’ad bin Mardanisy, yang masih dalam naungan khalifah dinasti Abbasiyah ke-32, yaitu al-Mustanjid Billah.

Sebagai ahli tasawuf dan sufi yang terkenal, beliau telah mencapai maqam-maqam yang tinggi dalam dunia tasawuf. Pada tahun 594 H sewaktu masih di Fez, Maroko, beliau mendapatkan ilmu ilahi dan menjadi Khatam al-Wilayah Muhammadiyah.

Di tahun berikutnya, 597 H ketika di Maroko, Ibnu Arabi mencapai maqam qurbah (dekat dengan Tuhan).

Dalam menempuh tingkatan-tingkatan spiritual itu, Ibnu Arabi kerap mendapatkan penyingkapan spiritual. Dalam penyingkapan tersebut, beliau mengaku dapat melihat para Nabi, semisal Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa, Nabi Hud, dan Nabi Muhammad SAW, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Penyingkapan tersebut tidak serta merta diperoleh dengan mudah, beliau menampakkan akhlak mulia sehingga sampai ke maqam tersebut, diantara akhlak mulia beliau, yaitu:

Pertama, Ibnu Arabi diberi hadiah rumah oleh penguasa Romawi, seharga 100 ribu dirham. Namun, Ibnu Arabi menyerahkan rumahnya itu kepada peminta-minta, karena Ibnu Arabi tidak punya apa-apa selain rumah itu ketika sang pengemis meminta sedekah.

Kedua, saat di Damaskus, Ibnu Arabi diberi banyak uang semisal dari Qadli bin az-Zanki sebanyak 30 dirham tiap hari dan oleh Shahib Hamash sebanyak 100 dirham setiap hari. Namun, Ibnu Arabi menyedekahkan semua uang yang diterimanya.

Ketiga, ketika dihina, Ibnu Arabi sama sekali tidak marah; sebab, penghina mengarakan suatu hinaan, sementara Ibnu Arabi tidak merasa memiliki hal-hal yang dihinakan kepadanya itu.

Itulah biografi singkat dan akhlak-akhlak dari Syeikhul Akbar Ibnu Arabi seorang sufi yang menjadi poros para ulama tasawuf.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)