Bandung, Aktual.com – Terpuruk sangat, ketika Khoriyatul Jannah Madjid mengetahui anak pertamanya, Shafa Husnul Khatimah (25) divonis tuna rungu pada usia 2 tahun. Pendengaran sebelah kanan Shafa samasekali tidak bisa merespon suara, sedang pendengaran kirinya hanya mampu mendengar dengan gelombang suara 110 desibel (dB), di mana pendengaran normal bisa merespon antara 0 – 20 dB.

Namun waktu itu dirinya masih besar harapan karena dokter yang menangani mengatakan masih ada kemungkinan saraf-saraf pendengarannya berkembang. Namun saat usia 4 tahun dilakukan tes bera atau tes pendengaran ulang, hasilnya pun tetap sama, bahkan lebih berat.

“Tetapi waktu usia empat tahun diperiksa lagi, kenyataannya lebih buruk, responnya menjadi 110dB yang asalnya 100dB. Jangan tanya deh, waktu itu yang paling terpuruk saya. Saya hanya membayangkan seperti apa dia nanti,” ungkap Khoriyatul kepada Aktual.Com usai peringatan Hari Ibu ke-88, HKSN, dan Hari Disabilitas Internasional, di Area Gedung Sate, Bandung, Kamis (22/12).

Namun berkat dorongan kuat dari sang suami, Royke MR, dirinya kembali bangkit dari keterpurukan. Sekitar tiga bulan dia sulit menerima kenyataan, putrinya mengalami tuna rungu.

“Tapi suami saya selalu mengingatkan, Allah itu Maha Tahu, Dia menitipkan anak kepada kita. Kamu harus bangkit, harus lakukan apa yang akan menjadikan anak ini baik. Itulah yang membuat saya tersentak sehingga saya tersadar,” ungkapnya.

Sejak itu tak ada jeda baginya dalam mengupayakan anaknya bisa mendengar. Jalan keluar pun ditemukan dengan menggunakan alat bantu dengar, yang akhirnya Shafa bisa mengikuti therapi wicara di RS Hasan Sadikin Bandung. Lalu, setelah beberapa kali sulit beradaptasi di lingkungan sekolah taman kanak-kanak, Shafa akhirnya diterima dengan baik di TK Mutiara Indonesia asuhan Kak Seto di Jakarta.

“Di TK itulah percaya diri dia tumbuh. Di sana sering ikut tampil bersama Si Komo di TPI, jadi punya rasa percaya diri, aku tuh sama lho dengan orang lain,” tutur Khoriyatul yang akrab disapa Bu Roy ini.

Berangkat dari TK itulah Shafa dengan bekal percaya diri yang tinggi akhirnya bisa diterima dan mampu beradaptasi dengan baik di lingkungannya di SD, SMP dan SMA Negeri favorit di  daerah asalnya. Bahkan sejak SD sampai SMA, prestasinya sangat gemilang terutama di pelajaran eksakta, dibanding teman-temannya.

“Sekolah di SD Negeri 2 Cimahi, SMPN 1 Cimahi, SMAN 3 Cimahi. Selama itu tidak ada hambatan, Alhamdulillah. Bahkan di SMA ranking satu di jurusan IPA, dan waktu SMP mewakili sekolahnya ikut olympiade matematika,” katanya.

Bidang eksak yang diminati sang anak, kemudian mengantarkannya ke jenjang pendidikan perguruan tinggi, Universitas Muhammadiyah Palembang pada tahun 2010. Tak tanggung-tanggung, bidang studi yang diambilnya pun jurusan kedokteran.

Dengan support yang kuat dan konsisten dari kedua orang tua, Shafa akhirnya mampu menempuh sidang sarjana kedokteran dengan indeks prestasi yang cukup baik, tidak kalah dengan teman-temannya yang memiliki pendengaran normal.

Bahkan, kata dia, beberapa bulan lalu sempat mendapat kejutan, ketika hadir di sebuah acara seminar terkait disabilitas di Jakarta, putrinya mendapat tawaran dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk menempuh kembali jenjang pendidikan kedokteran seklaigus berkarir sebagai dokter di negara adidaya tersebut. Tidak cukup di situ, dari Inggris pun Shafa mendapat tawaran yang sama.

“Kalau dari Inggris itu ada orang Indonesia yang tinggal di sana, kemudian menawarkan tapi dengan syarat seperti itu (di Amerika) juga. Di luar negeri disabilitas memang benar-benar difasilitasi, tapi kami yakin Indonesia juga bisa. Dan Shafa memang tidak mau mengabdikan diri di luar negeri, dia hanya ingin membantu mengabdi di negerinya sendiri,” ujar dia.

(Laporan : Muhammad Jatnika)

()

(Eka)