Ditulis oleh:

Mukhrij Shidqy | Dewan Pengawas LAZAR

Idul adha bermakna hari raya penyembelihan atau biasa disebut juga idul qurban. Terkait menyembelih hewan qurban ini Allah swt berfirman:

“Sesungguhnya kami telah memberikanmu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah” (QS. Al-Kautsar : 1-2). Dalam ayat lain disebutkan

وَلِكُلِّ أُمَّةٖ جَعَلۡنَا مَنسَكٗا لِّيَذۡكُرُواْ ٱسۡمَ ٱللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ ٱلۡأَنۡعَٰمِۗ فَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞ فَلَهُۥٓ أَسۡلِمُواْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُخۡبِتِينَ

Artinya :

Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah). (QS. Al-Hajj : 34)

Dari dua ayat di atas secara tegas Allah swt mengingatkan kita akan nikmat yang telah diberikan-Nya. Tidak selalu dalam bentuk uang, tapi juga non materi seperti kesehatan, memiliki keluarga yang baik, anak-anak yang baik, bahkan nikmat terbesar yang kita sering lalai terhadapnya, yaitu nikmat beriman kepada Allah swt. Atas nikmat-nikmat yang tak terhitung itulah, Allah swt memerintahkan untuk berqurban dengan menyebut nama Allah swt selain untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah swt juga sebagai tanda kesyukuran.

Sikap seorang mukmin ketika mendapatkan kenikmatan materi bukanlah untuk dipamer-pamerkan dihadapan orang miskin, selayaknya kisah Qorun. Jika Qorun membuat parade untuk pameran hartanya, zaman ini orang membuat konten di channel youtube-nya saat merenovasi rumahnya, membeli mobil baru, dan aktifitas materialistik lainnya. Tetapi, sikap seorang muslim saat diberi kelebihan harta adalah menggunakannya untuk lebih dekat kepada Allah swt, dengan menolong sesame. Diantaranya dengan berqurban.

Ketika berqurban kita diperintahkan untuk menyebut nama Allah, mengakui bahwa ini adalah nikmat yang dititipkan oleh Allah, bukan semata-mata hasil usaha kita. Seperti Qorun yang menyatakan bahwa harta yang amat sangat banyak itu semata-mata karena ilmunya, padahal itu semua adalah anugerah Allah swt. Saat kita merasa harta yang kita punya adalah milik Allah, tak akan terasa berat menggeluarkan harta untuk Allah, karena yang demikian berarti mengembalikan kepada pemiliknya. Sebaliknya, saat kita merasa harta itu milik kita, hasil usaha kita, berat hati untuk mengeluarkannya. Itulah sesungguhnya bibit penyakit bakhil yang berujung pada kekufuran.

Selain itu, hewan yang disembelih untuk qurban adalah bahîmatil an’âm (hewan ternak). Al-An’âm menjadi satu surat tersendiri di Al-Quran dan disebutkan sebagai analogi manusia yang tidak mau mendengar, melihat dan memahami ayat-ayat Allah swt. Ayat-ayat Allah adalah apa yang bisa di akses oleh panca indera, maka manusia yang tidak bisa mengakses ayat-ayat Allah biasanya karena ia menutup panca inderanya dan menutup hatinya. Itulah manusia yang tak ubahnya binatang ternak bahkan lebih buruk dari hal tersebut. Sikap dan sifat menutup diri dari ayat-ayat Allah inilah yang harusnya disembelih dalam momentum qurban ini.

(A. Hilmi)