Jakarta, aktual.com – Beberapa pakar teknologi yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Ilmu-Ilmu Kemanusiaan (KKIK), Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar Seminar ilmiah Internasional Mata Air 2020. Beragam paparan mereka sampaikan terkait hubungan teknologi dengan unsur religius.

“Ada berbagai hikmah luar biasa yang saya dapatkan saat mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits dalam penelitian,” ujar Dr. Eng. Khoirul Anwar, pakar coding dan
telekomunikasi Indonesia jebolan ITB, Sabtu(7/3).

Profesor pemilik 8 paten internasional di bidang telekomunikasi ini mengaku
mendapatkan inspirasi dari Al-Quran dan Sunnah dalam penemuan teori-teori dasar bagi teknologi 5G dan 6G.

“Sumber inspirasi yang mampu menghadirkan ilham ketika mencari pendekatan coding terbaik yang pada akhirnya membawa pada penemuan teori-teori dasar bagi teknologi 5G dan 6G,” ujar pria asal Kediri lulusan Jurusan Teknik Elektro ITB yang lulus dengan predikat cum laude di tahun 2000 itu.

Peneliti asal Indonesia ini telah membanggakan Indonesia dengan prestasi di kancah internasional. Dia adalah merupakan penemu dan sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing).

Temuannya ini kemudian mendapatkan penghargaan Best Paper untuk kategori Young Scientist pada Institute of Electrical and Electronics Engineers Vehicular Technology Conference (IEEE VTC) 2010-Spring pada 16-19 Mei 2010, di Taiwan. Kini hasil temuan yang telah dipatenkan itu digunakan oleh sebuah perusahaan elektronik besar asal Jepang.

Ilmuwan lainnya, Dr. Qoriah Siregar yang juga dosen ITB mengangkat tema ‘’Religiusitas Masyarakat Digital Sebagai Sebuah Kajian Tekno-agama’’. Ia memberikan pemaparan tentang berbagai pengaruh teknologi pada
ilmu pengetahuan dan relijiusitas masyarakat.

“Terutama masyarakat modern yang saat ini amat bergantung pada teknologi digital. Penting diantisipasi dampak positif dan negatif dari teknologi, agar tidak melunturkan nilai-nilai agama,” ujarnya.

Sementara itu, pimpinan Majalah Ilmiah Mata Air yang turut mendukung kegiatan ini mengangkat tema tentang “Islamic Civilization and Its Proclivity to Science: A Forgotten History of Dark Ages”. Menurutnya saat dunia barat dalam kegelapan, justru menjadi era emas bagi dunia Islam.

“Kala dunia barat dalam abad Kegelapan yang mendera pada saat itu tidaklah berlaku bagi dunia Islam, sehingga tepat bila dikatakan bahwa pada masa itu ada kegelapan bagi dunia Barat namun terang bagi dunia Timur,” kata Astri Katrini Alafta dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu(7/3).

Bahkan, dipaparkannya perkembangan ilmu pengetahuan di Barat berhutang besar pada penerjemahan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh dunia Islam pada masa itu.

Dr. Salih Yucel dari Charles Sturt University dalam kesempatan ini juga membongkar fakta mencengangkan tentang penemu benua Amerika. Dikatakannya, Columbus bukanlah orang pertama yang sampai ke benua Amerika.

“Bukti-bukti arkeologi menunjukkan banyak sekali penemuan yang didapatkan di Amerika dan Meksiko yang menunjukkan
keberadaan orang-orang Islam di benua tersebut, jauh sebelum Columbus datang,” ujarnya.

Salih juga memberikan berbagai bukti akademis yang telah diterbitkan di Amerika sendiri. “Amerika sendiri meragukan Columbus yang pertama datang ke benua itu karena bukti menunjukkan keberadaan peradaban Islam,” tegasnya.

Sedangkan peneliti dari KKIK ITB, Dr. Syihabuddin menjelaskan mukjizat tersirat
yang tersimpan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Salah satunya terkait pendekatan linguistik dalam memahami fakta-fakta tersirat dari Surat Saba’ ayat 10-12. (Eko S Hilman)

(Tino Oktaviano)