Jakarta, Aktual.com —  Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa peningkatan defisit anggaran Arab Saudi dapat dengan cepat mengikis cadangannya, kecuali menyesuaikan kemerosotan harga minyak dengan mengadopsi sejumlah reformasi menyakitkan.

“Dengan penurunan besar harga minyak, defisit fiskal meningkat tajam dan kemungkinan akan tetap tinggi dalam jangka menengah,” kata IMF dalam laporannya yang dirilis setelah pembicaraan dengan para pejabat Saudi, dikutip Kamis (10/9).

“Defisit ini akan cepat mengikis penyangga fiskal yang telah dibangun selama dekade terakhir,” katanya.

Kerajaan harus melakukan “penyesuaian fiskal multi-tahun besar” untuk menyeimbangkan anggaran, kata IMF.

Reformasi harus mencakup efisiensi energi yang komprehensif dan perubahan harga, memperluas pendapatan non-minyak, meninjau ulang modal dan pengeluaran saat ini serta mengurangi tagihan upah pemerintah, tambahnya.

Laporan memproyeksikan defisit anggaran Saudi mencapai 19,5 persen dari Produk Domestik Bruto, atau sekitar 130 miliar dolar AS pada 2015.

Dikatakan defisit diproyeksikan lebih rendah pada 2016 tetapi akan tetap tinggi dalam jangka menengah dan diperkirakan mencapai 9,5 persen dari PDB — sekitar 80 miliar dolar AS — pada 2020.

IMF telah memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi Arab Saudi menjadi 2,8 persen tahun ini dan 2,4 persen pada 2016.

Laporan itu mengatakan bahwa kerajaan telah memberitahu IMF bahwa pihaknya sedang mempertimbangkan reformasi harga energi untuk pengguna komersial dan industri.

Biaya subsidi harga energi menyumbang 8,0 persen dari PDB tahun lalu atau sekitar 60 miliar dolar AS, kata IMF.

Penyesuaian harga bensin dan solar Saudi — saat ini yang terendah di Bumi — akan menghemat 17 miliar dolar AS tahun ini.

Laporan itu mengatakan bahwa peningkatan pesat pengeluaran pemerintah dalam beberapa tahun terakhir didukung pendapatan minyak yang tinggi telah meningkat harga impas Saudi untuk minyak dari 69 dolar AS per barel pada 2010 menjadi 106 dolar AS per barel sekarang.

Menteri Keuangan Saudi Ibrahim al-Assaf mengatakan pada Minggu pemerintah akan menunda proyek yang tidak perlu untuk memotong pengeluaran dan mengeluarkan lebih banyak obligasi untuk membiayai rekor defisit anggaran.

Kerajaan — ekonomi Arab terbesar dan eksportir minyak terbesar di dunia — menghadapi krisis anggaran yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah harga minyak mentah turun lebih dari setengah dalam setahun menjadi di bawah 50 dolar AS per barel.

Saudi juga memimpin perang mahal di negara tetangga Yaman, di mana Riyadh memimpin koalisi yang telah melakukan serangan udara terhadap pemberontak yang didukung Iran sejak Maret.

Pada 2014, Arab Saudi mencatat defisit anggaran sebesar 17,5 miliar dolar AS, hanya yang kedua sejak 2002.

Perusahaan investasi Saudi Jadwa mengatakan pekan lalu bahwa pada akhir Juli pemerintah telah menarik 82 miliar dolar AS dari cadangannya, mengurangi aset-aset kontinjensi menjadi 650 miliar dolar AS.

Cadangan diperkirakan turun menjadi 629 miliar dolar AS pada akhir tahun, kata Jadwa.

“Arab Saudi menghasilkan rekor 10,6 juta barel per hari pada Juni, tetapi melambat menjadi 10,4 juta barel per hari pada Juli,” katanya.

(Ant)

(Eka)