Industri Kelapa Sawit (Ant.)

Jakarta, aktual.com – Kinerja emiten perkebunan kelapa sawit, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) saat ini memang masih tertekan di tengah harga CPO global yang masih tergerus. Ditambah lagi kebijakan pemerintah terkait moratorium lahan turun menekan kinerja perseroan.

Namun, pihaknya masih optimistis harga minyak kelapa sawit bakal terkerek naik seiring rencana pemerintah yang meningkatkan implementasi bahan bakar biodiesel B20 menjadi B30.

Menurut Sekretaris Perusahaan BWPT, Satrija Budi Wibawa, kelapa sawit merupakan bidang usaha jangka panjang. Untuk itu, perseroan berkomitmen terhadap investasi ini untuk masa depan.

Makanya, kata dia, dengan kondisi itu pihaknya optimis, harga CPO akan terus naik di masa mendatang seiring dengan terus bertumbuhnya kebutuhan minyak nabati dunia.

“Ditambah lagi, moratorium lahan sudah efektif dan hal ini merupakan indikasi batasan suplai. Plus adanya rencana pemerintah untuk mengimplementasikan B20 menjadi B30 akan mendorong peningkatan harga CPO,” ungkap dia usai paparan publik di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (26/7).

Saat ini, jelas dia, fokus perseroan antara lain mengelola keuangan dan operasional kebun secara efektif dan efisien. Ditambah BWPT juga mengoptimalkan sumber daya manusia yang berorientasi pada peningkatan produktivitas.

Satrija menjelaskan, beberapa langkah ini didukung dengan penerapan teknologi informasi. Yaitu, aplikasi Jedox untuk membantu pengelolaan anggaran yang efektif dan efisien. Digital Harvesting System untuk memastikan pengelolaan yang akurat dan peningkatan produktivitas panen tandan buah segar (TBS).

Perseroan juga terus meng-upgrade Plantation Management System untuk membantu pengelolaan operasional, termasuk sumber daya manusia, secara efektif dan efisien.

“Semua teknologi informasi tersebut terintegrasikan ke dalam SAP S4HANA, platform teknologi yang memudahkan analisa dan reporting sekaligus monitoring operasional perusahaan dengan pengumpulan data yang kredibel dan akurat,” papar Satrija.

Maka dari itu, untuk terus bisa bertahan di bisnis kelapa sawit itu, perseroan telah merombak jajaran direksi memasukkan dua profesional di dalam susunan direksi baru itu. Bergabungnya dua direksi ini sebagai langkah mengantisipasi berbagai tantangan dalam usaha kelapa sawit, termasuk masih rendahnya harga CPO di pasar global.

Kedua profesional baru tersebut adalah Ramesh Veloo sebagai direktur utama dan Gelora Sinuraya sebagai direktur.

“Ramesh Veloo dan Gelora Sinuraya adalah para profesional yang sudah malang melintang di industri perkebunan, khususnya kelapa sawit, dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di berbagai perusahaan perkebunan multinasional,” tuturnya.

Dengan pengalaman panjang tersebut, kata dia, diharapkan dapat memperkuat kinerja Perseroan di tengah melemahnya industri kelapa sawit yang ditekan oleh perang dagang (trade war) dan kampanye negatif sawit dari Uni Eropa.

“Tantangan terberat saat ini bertambah seiring masih rendahnya harga CPO di pasar global,” keluh dia.

Sebagai informasi, pada kuartal I-2019, produksi TBS, CPO dan PK meningkat masing-masing 40%, 33% dan 25% atau menjadi sebesar 359,966 ton, 74,718 ton dan 11,431 ton, dibanding produksi pada periode yang yang sama tahun lalu.

Sedangkan pendapatan perseroan pada kuartal I tercatat Rp637.996 miliar, atau meningkat hanya 1% dibanding kuartal I tahun lalu. Hal ini dipicu adanya penurunan harga yang cukup tajam. Tercatat BWPT masih membukukan rugi bersih sebesar Rp262 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu.

(Zaenal Arifin)