Jakarta, Aktual.com — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan implikasi penurunan saham Tiongkok perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ekspor Indonesia ke negara itu.

“Kalau sepanjang pasar saham saja (yang anjlok) tidak masalah. Implikasinya perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok yang memengaruhi ekspor kita,” kata Sofyan Djalil di Jakarta, seperti ditulis Jumat (10/7).

Ia mengatakan komoditas yang biasa diekspor ke negara itu, seperti batu bara, akan terdampak sehingga memengaruhi ekonomi Indonesia.

Tiongkok, ujar dia, mengalami tekanan luar biasa dengan jatuhhnya harga saham sehingga menurut dia Indonesia perlu mencari pasar ekpor non-tradisional.

Selanjutnya, ia menuturkan saham Tiongkok dari Januari hingga Juni 2015 mengalami peningkatan yang tinggi, yakni sebesar 60 persen dan sekarang koreksi 40 persen. Selain itu, harga saham kini cenderung lebih cepat naik dan turun.

Sofyan mengakui, dengan kondisi ekonomi pasar saat ini, pertumbuhan ekonomi dan pasar saham di suatu negara berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi dan pasar saham negara lain.

Meski begitu, ia berharap kondisi ekonomi Tiongkok segera membaik agar dampak pada negara lain tidak berlangsung lama.

Sebelumnya, harga-harga saham di Tiongkok terus anjlok pada Rabu (8/7). Indeks Shanghai Composite turun hampir 7 persen dan indeks Shenzhen Composite turun 4 persen. Hal itu merupakan lanjutan penurunan yang telah melenyapkan 30 persen nilai pasar sejak pertengahan Juni.

Untuk melindungi diri dari penjualan besar-besaran, ratusan lagi perusahaan China telah mengajukan penghentian jual beli sahamnya. Secara keseluruhan, lebih dari 1.300 perusahaan di China daratan, atau sedikitnya 40 persen dari pasar, telah menghentikan jual beli saham.

()