“Kalau subsidi petani kan bisa bikin sejahtera petani kita. Pasokan dalam negeri pun cukup, tapi kalau impor ketan, Bulog hanya bisa sejatera petani negara lain dong,” tuturnya.

Terhadap niatan impor ini, Ketua Asosiasi Lumbung Pangan Jawa Timur, Suharno juga menyampaikan protes. Ia menilai rencana impor beras ketan itu tidak masuk akal. Pasalnya, saat ini saja, ketika belum ada impor beras ketan, beras dan gabah di penggilingan padi menumpuk dan tidak bisa dijual.

“Kalau impor jadi, ini akan menyebabkan gairah untuk bertani menjadi loyo, petani tidak akan semangat. Sedangkan impor yang lama saja masih mempengaruhi distribusi beras saat ini,” ujarnya.

Pemerintah, kata dia, seharusnya menjaga stabilitas harga. Jika dilakukan impor beras ketan, maka dinilainya tidak memikirkan produk petani sendiri. “Harusnya petani ditingkatkan lagi untuk bertanam (beras ketan) daripada impor. Konsep itu yang harus di wujudkan untuk swasembada pangan,” kata Suharno, di kesempatan terpisah.

Ia berharap ada peningkatan hasil panen dan percepatan tanam pasca kemarau Panjang ini, baik beras biasa maupun beras ketan. “Sehingga panen bisa terjadi 3 kali dalam satu tahun,” tuturnya.

Sedangkan Pengamat Ekonomi dari Indef, Berly Martawerdaya mengatakan, biasanya masa panen padi biasa dan padi beras ketan biasanya bulan Januari. Untuk meyakinkan adanya urgensi impor, harus ada data produksi dari (Badan Pusat Statistik) akan hal ini. Adanya impor bisa dipastikan akan menafikan produksi petani di Tanah Air.

(Abdul Hamid)