CEO Mahaka Sports Erick Thohir (tengah) didampingi Auditor Pricewaterhouse Coopers (PwC) Lok Budianto (kedua kiri) menjawab pertanyaan wartawan usai menghadap Presiden Joko Widodo untuk melaporkan hasil audit keuangan penyelenggaraan turnamen Piala Presiden di Istana Merdeka Jakarta, Selasa (5/1). Dari penyelenggaraan turnamen sepakbola Piala Presiden masih ada sisa dana Rp 1,5 miliar lebih dari total pemasukan kurang lebih Rp45 miliar, pajak penghasilan dan PPN hampir Rp 6 miliar, laporan tersebut diaudit oleh Pricewaterhouse Coopers (PwC) dan mendapat opini wajar tanpa pengecualian. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/aww/16.

Jakarta, Aktual.com – Panitia penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) mengajak Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABSI) sama-sama memperjuangkan nomor 62 kilogram di Asian Games 2018 oleh Federasi Internasional Angkat Besi (IWF).

“Kita sama-sama berjuang, jangan saling tunjuk siapa yang salah, karena tidak ada gunanya. Waktu sudah tidak bersahabat. Justru kita harus bergabung memperjuangkan nomor ini dan saya sudah menyampaikan opsi-opsinya, tapi ketika federasi internasional memutuskan, OCA tidak dalam posisinya mengubah keputusan,” ujar Ketua INASGOC Erick Thohir di Jakarta, ditulis Selasa (27/2).

Saat ini, Indonesia masih menunggu jawaban dari IWF terkait permohonan pembatalan pencoretan kelas 62kg dari Asian Games 2018, dimana atlet angkat besi andalan Indonesia, Eko Yuli Irawan, bertanding.

Menurut Erick, belajar dari kejadian ini, sudah selayaknya pengurus cabang olahraga (cabor) mengerti pemetaan olahraga internasional dengan membuka pergaulan lebih luas ke konfederasi internasional masing-masing cabang olahraga, sehingga setiap perubahan yang terjadi dapat diketahui dengan cepat.

Pasalnya menurut dia, tidak mungkin berbagai perubahan dalam cabang olahraga hanya dibebankan pada INASGOC atau Komite Olimpiade Indonesia (KOI), karena ketika kebijakan ini diambil oleh konfederasi internasional, merupakan bagian dari sistem yang harus dilakukan.

“Apalagi, jika keputusan itu berlanjut sampai ke Olimpiade 2020, pasti kebijakan internasional. Tapi kalau keputusannya hanya untuk Asian Games 2018, ini pasti ada sesuatu yang aneh,” ucap Erick.

Atas adanya pencoretan tersebut, Erick berharap tidak ada lagi ‘kejutan’ yang diberikan konfederasi internasional cabang olahraga menjelang perhelatan Asian Games 2018 yang waktunya tersisa kurang 175 hari lagi, termasuk tidak terpenuhinya aturan minimal enam negara peserta di satu cabang olahraga.

“Jangan sampai nanti jetski, paragliding, bridge tiba-tiba langsung didrop dengan alasan aturan pengurus cabor tidak melobi internasional dan pesertanya hanya empat. Itu langsung bisa didrop dengan alasan aturan. Kami ingatkan semua pengurus cabor untuk aktif. Ini yang kita sama-sama mesti jaga, kita perjuangkan jangan sampai ada lagi kejutan seperti ini dari internasional,” ucap Erick.

 

Ant.

()