Ratusan pelamar memadati bursa kerja di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (15/10). Pada tahun ini angkatan kerja Indonesia mencapai 127,6 juta dengan tingkat pengangguran keseluruhan sebesar 5,5 persen atau tujuh juta orang. Sementara itu lebih dari 50 persen dari pekerja berkarir pada sektor informal. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Laju pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5 persen, membuat kualitas pertumbuhan tak berdampak ke kesejahteraan rakyat. Bahkan disebut masih akan memperparah tingkat pengangguran dan kemiskinan masyrakat.

Menurut Wakil Direktur Eksekutif INDEF Eko Listianto, di tahun depan tingkat pengangguran terbuka (TPT) masih akan tinggi. Hal ini karena pemerintah kesulitan untuk menurunkannya.

“Kami prediksi di 2018, TPT akan berkisar di 5,5 persen. Ini ebih tinggi dari target pemerintah yang berada pada rentang 5-5,3 persen,” tandas Eko di Jakarta, Rabu (29/11).

Dia menegaskan, hal ini terjadi karena kualitas pertumbuhan ekonomi dalam menyerap tenaga kerja masih rendah. “Ini juga sebagai akibat stagnasi pertumbuhan di sektor-sektor tradable,” ungkapnya.

Selain itu, menurut Eko, pihaknya juga memprediksikan tingkat kemiskinan pada tahun depan akan sebesar 10,5 persen atau berada di atas target Pemerintah pada tahun 2018 yang berada di kisaran 9 persen hingga 10 persen.

“Makanya agar kemiskinan tak kian parah, pemerintah diharapkan mampu meningkatkan efektivitas berbagai program pengentasan kemiskinan itu,” kata dia.

Salah satu yang penting untuk dilakukan pemerintah dalam rangka menekan tingkat pengangguran dan kemiskinan adalah menggenjot pertumbuhan sektor tradable. Terutama sektor pertanian dan industri manufaktur serta sektor pendukung lainnya.

“Jadi sektor agraria jangan ditinggal apalagi ada dana desa. Ditambah juga perlu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kontributif bagi penyediaan lapangan kerja agar target penurunan tingkat kemiskinan dan pengangguran tercapai,” jelas dia.
Busthomi

()