Jakarta, Aktual.com — Seorang marketing yang handal terus mencari metode baru untuk menarik konsumen bahkan sampai metode komuniasi mereka sesuaikan dengan karakteristik konsumen.

Dan, metode ini menjadi salah satu dari pemasaran Islam, dengan cara seperti menargetkan konsumen Muslim dengan sumber daya yang spesifik, keterampilan dan alat-alat yang relevan untuk menarik konsumen tertentu.

Sekedar informasi, populasi muslim di seluruh dunia saat ini sekitar 1,8 miliar, itu mewakili potensi pemasaran yang sangat menarik untuk para marketing. Bahkan, industri konsumsi Muslim bisa mencapai 2,2 triliun dolar AS.

Temuan terbaru menunjukkan 98 persen dari konsumen Muslim Indonesia merasa diabaikan oleh merek Amerika dan perusahaannya karena mereka tidak aktif dalam menjangkau konsumen Muslim.

Jika dilihat dari perspektif ekonomi, konsumen Muslim dianggap memiliki status sosial yang rendah, kurang berpendidikan, dan memiliki pola pikir tradisional dan tidak kompetibel dengan konsumen berideologi kapitalis.

Seharusnya marketing harus lebih netral dan tak berprasangka buruk karena pada kenyataannya perempuan Muslim menghabiskan 200-300 euro setiap bulannya untuk mode fesyen.

Dan, itu merupakan jumlah yang jauh di atas rata-rata. Terkait dengan teori pemasaran dan agama Islam dapat diyakini dengan cara memahami secara menyeluruh norma-norma dan nilai-nilai Islam sebagai titik awal.

Dengan kata lain, perusahaan dan merek tertentu harus menghadapi tantangan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam serta menyeluruh dari nilai-nilai agama dan konsumen tentang bagaimana nilai-nilai ini mempengaruhi keputusan konsumen mereka sehari-hari.

Karena hanya dengan jenis empati market dapat menarik dan menjangkau konsumen muslim untuk tujuan ekonomi.

Dalam waktu yang lama, industri pemasaran menganggap konsumen Muslim tidak terlihat bahkan tidak ada.

Namun dmeikian, dalam dekade terakhir, terlihat jelas sejumlah perusahaan dan merek ternama justru memasukkan umat Islam dalam strategi komunikasi pemasaran mereka dengan menggambarkan terhadap kerangka agama.

Dan, sebagai konsekuesinya akhirnya mereka bisa menyingkirkan tindakan ‘partially’ dan ‘marginalisasi’ konsumen Muslim. Dan, itu menunjukkan bahwa mereka adalah bagian integral dari masyarakat luas.

Dengan moto yang sangat relevan “bersatu dan selalu berbagi” membuat keadaan lebih baik dari sebelumnya. Itulah pemasaran Islam yang harus terus berdiri sepanjang masa. (Sumber: Mvslim, Al Arabiya)