Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, aktual.com – Tasawuf merupakan salah satu ilmu yang sangat berarti bagi semua orang, karena tasawuf adalah ilmu yang sangat mengedepankan adab, Seperi yang dijelaskan oleh Maulana Syekh Yusri Rusydi Sayyid Jabr al-Hasani sebagai berikut:

Syekh Yusri hafidzahullah Ta’ala wa ro’ah menjelaskan dalam pengajian Bahjat Annufusnya, bahwa tasawuf adalah adab, maka semakin tinggi adab seseorang semakin tinggi pula tingkatan tasawufnya. Adab di sini adalah mencakup seluruh mu’amalah (interaksi) seorang muslim dengan Allah Ta’ala, baginda Nabinya, dan hubungannya dengan sesama manusia serta dengan semua alam semesta.

“Diantara adab bermu’amalah antar sesama manusia adalah tidak merendahkan siapapun, orang muslim secara khususnya, dan manusia secara umumnya. Tidaklah seseorang merendahkan saudaranya, kecuali dirinya adalah orang yang hina,” tambah Syekh Yusri.

Hal ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْر وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلا

“Sesungguhnya telah kami muliakan anak Adam AS dan kami naikkan mereka di daratan dan lautan, dan telah kami karuniakan kepadanya akan kebaikan-kebaikan, serta kami jadikan mereka di atas banyak makhluk yang telah kami ciptakan dengan sebenar-benar meniggikan,” (QS. Al Isra: 70).

Orang kafir juga merupakan atsar dari pada Sifat dan fi’l (perbuatan) Allah Ta’ala, seperti halnya Sifat Al Mudzil yang artinya adalah Dzat yang Menghinakan, sebagaimana seorang muslim adalah atsar dari Sifat Al Mu’iz yang berarti Dzat yang Memuliakan, yang keduanya tersebut harus kita muliakan oleh karena sama-sama merupakan atsar dari Sifat dan Nama Allah yang baik.

Allah Ta’ala sendiri yang telah memuliakan semua anak Adam AS, dan kitapun diperintahkan untuk berakhlak dengan akhlak keTuhanan. Adanya orang kafir adalah menunjukkan dan menunjukkan kita kepada Allah sebagai Dzat yang Al Qahhar yang artinya Maha Memaksa, menjadikan adanya keimanan dan kekafiran di muka bumi ini.

Kekafiran adalah ayat akan kebesaran Sifat Kuasa Allah, serta kehendak Allah yang diatas segalanya. Allah telah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan apabila Allah menghendaki maka Allah jadikan kalian sebagai umat yang satu, akan tetapi Allah akan menyesatkan orang yang Ia kehendaki, dan memberikan hidayah kepada siapa yang Ia kehendaki, dan sesungguhnya kalian akan ditanya tentang apa yang telah kalian lakukan,” (QS. An Nahl: 93).

Seandainya saja islam memerintahkan untuk membeci manusia yang kafir, maka islam tidak akan mengajarkan untuk berbakti kepada kedua orang yang tua yang berbeda agama dengan anaknya. Anak tetapi Allah berfirman:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

“Dan jikalau mereka berdua (orang tua yang kafir) memaksamu untuk menyekutukanKu dengan sesuatu yang tidak kamu ketahui, maka janganlah kamu ta’ati mereka, dan temanilah mereka berdua di dunia ini dengan baik” (QS. Luqman: 15).

Wallahu A’lam

(Rizky Zulkarnain)