Ilustrasi- Seseorang sedang Mengasingkan Diri

Jakarta, Aktual.com-  Uzlah merupakan salah satu metode pendekatan kepada Allah SWT yang dilakukan oleh para sufi. Uzlah ini merupakan suatu hal yang sangat penting bagi mereka yang ingin mendapatkan kedudukan-kedudukan sempurna dalam agama yaitu Islam, Iman dan Ihsan.

Secara istilah Uzlah yaitu mengasingkan atau menarik diri dari keramaian. Tujuan Uzlah tidak lain adalah untuk menggapai kesempurnaan dalam agama dengan menjaga keselamatan agama dan jiwa.

Uzlah sendiri telah dipraktekkan oleh para Nabi terdahulu, seperti yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, Ashabul Kahfi, atau Nabi Musa As bahkan Nabi Muhammad SAW sebelum mendapatkan wahyu, Beliau melakukan ‘Uzlah di Gua Hira. Allah SWT berfirman mengisahkan Nabi Ibrahim As saat beruzlah meninggalkan kaum-kaumnya, sebagai berikut:

واعتزلكم وما تدعون من دون الله وادعو ربي عسى الا اكون بدعاء ربي شقيا

“Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku.” (QS: Maryam: 48)

Menurut para ulama, ada sepuluh manfaat ‘Uzlah, sebagai berikut:

Pertama, selamat dari bahaya lisan

Sebab orang yang menyendiri tidak akan menemukan orang yang mengajaknya bicara. Karena, kesalhan terbanyak dari Bani Adam terdapat dalam lisannya dan orang yang paling banyak dosanya pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak menghabiskan waktunya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

Kedua, Menjaga pandangan dan selamat dari bahaya pengliatan

Muhammad bin Sirrin mengatakan, “Hati-hatilah dengan pandangan yang berlebihan. Sebab, ia menyebabkan syahwat yang berlebihan pula.

Ketiga, menjaga hati dan memeliharanya dari sifat riya’, sifat cari muka dan sebagainya. Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Orang yang paling banyak bergaul dengan orang lain, akan banyak memuji-muji mereka. Sedangkan seorang yang banyak memuji orang lain, akan banyak memperlihatkan diri di hadapan mereka. Orang yang banyak memperlihatkan diri di hadapan orang lain, kana terjerumus ke dalam kondisi yang buruk. Akibatnya, dia akan celaka seperti mereka.

Keempat, jauh dari kesenangan dunia dan merasa cukup atas pemberian yang ada.

Hal itu hanya akan tercapai dengan kecintaan Allah dan kecintaan manusia kepadanya, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Jauhilah dunia, niscaya engkau akan dicintai Allah. Jauhilah apa yang ada di hadapan manusia, niscaya engkau akan dicintai oleh mereka.”

Kelima, selamat dari pertemanan orang-orang jahat dan pergaulan orang-orang yang banyak dosa.

Bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya adalah sebuah kerusakan yang besar dan bahaya yang nyata. Sebab, teman itu adalah gambaran diri sendiri, Rasulullah SAW bersabda, “Agama seseorang tak jauh dari agama temannya. Sehingga melihat seseorang, lihatlah agama orang yang menemaninya.”

Keenam, memiliki banyak kesempatan untuk beribadah, berzikir, dan bertekad untuk takwa dan berbuat baik.

Biasanya saat menyendiri, seorang memiliki banyak waktu untuk beribadah kepada Tuhannya, memfokuskan seluruh anggota tubuhnya, hati, dan akalnya untuk beribadah. Karena, tidak ada orang yang menggangu dirinya untuk melakukan semua itu.

Ketujuh, menemukan manisnya ketaatan dan nikmatnya munajat kepada Allah.

Hal itu karena kosongnya hati dari segala hiruk pikuk kehidupan yang dapat menyibukkan diri dari menghadap Tuhannya.

Kedelapan, Merasakan ketenangan badan dan ketenangan hati.

Kesembilan,  memelihara diri dan agama dari segala bentuk keburukan dan permusuhan yang disebabkan terlalu banyak bergaul.

Kesepuluh, memudahkan diri untuk melakukan ibadah tafakur dan mengambil pelajaran. Nabi Isa As telah bersabda, “Berbahagialah orang yang tutur katanya adalah zikir, diamnya adalah tafakur dan penglihatannya adalah mengambil pelajaran.”

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)