Jakarta, Aktual.com — Direktur Lembaga Analisis Kebijakan Konflik (IPAC) Sidney Jones berpendapat bahwa kelompok bersenjata IS tidak menilai Asia Tenggara, apalagi Indonesia, sebagai kawasan strategis dalam memperluas jaringan atau melancarkan serangan.

Jones mengatakan hal tersebut setelah menghadiri diskusi bertema “Radikalisasi dan Deradikalisasi” di Pusat Kebudayaan Jerman Goethe Institut, Jakarta, Kamis.

“Menurut saya, tidak akan ada gerakan, yang diperintahkan IS pusat, untuk Indonesia karena mereka terlalu fokus dengan yang terjadi di Timur Tengah. Kalau pun di luar Timur Tengah, Eropa pasti lebih menarik bagi mereka daripada Asia Tenggara,” kata Jones.

Meskipun belakangan banyak dugaan berkembang tentang rencana pembentukan cabang IS secara resmi di Indonesia, ia mengatakan warga Indonesia tidak perlu khawatir, karena soal tersebut belum bisa dibuktikan.

Terkait Santoso, tersangka teroris sekian lama bersarang di Poso dan menyebut diri ketua tentara IS di Indonesia, Jones mengatakan pria itu hanya menggunakan IS sebagai “tunggangan” untuk membesarkan namanya.

“Siapa saja bisa bilang begitu. Dia punya anak buah di Suriah dan pernah membuka komunikasi dengan IS melalui media. Meskipun belum pernah bertatap muka, dia menyatakan seolah-olah diakui secara tidak resmi sebagai perwakilan IS di Indonesia,” kata mantan Direktur Asia Human Right Watch itu.

Meskipun tidak mampu menyebutkan jumlah pasti, Jones memperkirakan ratusan orang sudah menerima ideologi IS di Indonesia melalui jaringan kelompok keras, yang bergerak di beberapa daerah, seperti, Bima, Solo, Lampung, dan Bekasi.

Pengaruh IS di Indonesia juga dibuktikan dengan keberadaan akun Twitter, yang menyebarkan propaganda IS, di media gaul dalam bahasa Indonesia.

“Saya kira, IS suka memakai sumber daya setempat untuk melakukan propaganda. Oleh karena itu, warga Indonesia harus melawan dengan cara serupa. Pemerintah bisa menggalang pencegahan radikalisasi dan terorisme, tapi tentu saja butuh kesertaan seluruh unsur masyarakat,” kata Jones, ahli pergerakan teroris di Indonesia.

Masalah radikalisme dan terorisme kembali marak diperbincangkan setelah pada 13 November, IS mengaku bertanggungjawab atas serangkaian penembakan dan pengeboman di Paris, Prancis, yang menewaskan 129 orang dan melukai 352 lagi.

Setelah menyerang Paris, akun Twitter terkait IS berjanji menjadikan London, Washington DC, dan Roma sebagai sasaran berikutnya.

()

(Arbie Marwan)