Dirut Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo (kiri) berbincang dengan Direktur Corporate Banking Royke Tumilaar disela penyampaikan laporan keuangan Bank Mandiri triwulan I/2017 di Jakarta, Selasa (25/4). Bank Mandiri mencatat pemulihan kinerja setelah kredit tumbuh 14,2 persen pada triwulan I-2017 menjadi Rp 656,2 triliun secara tahunan, hingga mendorong peningkatan laba bersih 6,9 persen menjadi Rp 4,1 triliun secara yoy. AKTUAL/Eko S Hilman

Jakarta, Aktual.com – Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Royke Tumilaar mengatakan tidak akan banyak mengubah kebijakan-kebijakan perseroan yang sebelumnya sudah dijalankan oleh dirut sebelumnya Kartika Wirjoatmodjo yang akrab dipanggil Tiko.

“Pada dasarnya saya tidak akan terlalu banyak mengubah kebijakan yang dulu karena saya juga bagian dari tim Pak Tiko dan itu kita tetapkan bersama-sama. Tapi mungkin ada beberapa strategi seperti bagaimana kolaborasi antara wholesale dan ritel lebih kuat lagi karena banyak bisnis wholesale dan turunannya belum banyak digarap di ritel,” ujar Royke saat jumla pers di Plaza Mandiri Jakarta, Senin (9/12).

Selain itu, lanjut Royke, perseroan juga akan terus melakukan transformasi digital dalam menjalankan bisnis dan menyediakan layanan kepada nasabah.

“Digital banking tetap karena mau tidak mau ke depan digital ini jadi kebutuhan atau bagian dari market atau nasabah kita sendiri. Cost juga akan lebih turun lagi,” ujar Royke.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) awal pekan ini memutuskan untuk mengangkat Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar sebagai Direktur Utama.

Dalam rapat, disepakati juga pengangkatan Silvano Rumantir sebagai Direktur Keuangan dan Strategi. Bankir muda yang juga merupakan talenta internal Bank Mandiri itu memiliki pengalaman yang mumpuni di sektor keuangan sehingga dapat memacu lebih kencang pengembangan bisnis perseroan.

Untuk menjaga dinamika ekonomi serta melihat berbagai peluang di tengah ketatnya kondisi perekonomian global, pemegang saham mengangkat Chairman Mandiri Institute yang juga Menteri Keuangan Republik Indonesia periode 2013-2014, Muhamad Chatib Basri, sebagai Wakil Komisaris Utama.

Pemegang saham pun sepakat mengangkat Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo sebagai Komisaris Utama. Tiko yang sebelumnya menjabat Direktur Utama, akan memastikan seluruh corporate plan yang sudah dirancang dapat terealisasi dengan baik. Selain itu, Kartika Wirjoatmodjo juga akan memastikan rencana ekspansi regional perseroan berjalan dengan baik serta melakukan restrukturisasi kredit-kredit besar di BUMN.

Dengan demikian, susunan direksi perseroan menjadi sebagai berikut: Direktur Utama Royke Tumilaar, Wakil Direktur Utama Sulaiman Arif Arianto, Direktur Consumer & Retail Transaction Hery Gunardi, Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Information Technology Rico Usthavia Frans, Direktur Treasury, International Banking & SAM Darmawan Junaidi, Direktur Corporate Banking Alexandra Askandar, Direktur Kepatuhan dan SDM Agus Dwi Handaya, Direktur Hubungan Kelembagaan Donsuwan Simatupang, Direktur Commercial Banking Riduan, Direktur Keuangan dan Strategi Silvano Winston Rumantir serta Direktur Operations Panji Irawan.

Sedangkan susunan komisaris perseroan menjadi: Komisaris Utama Kartika Wirjoatmodjo, Wakil Komisaris Utama Muhamad Chatib Basri, Komisaris Independen Mohamad Nasir, Komisaris Independen Robertus Bilitea, Komisaris Independen Makmur Keliat, Komisaris Ardan Adiperdana, Komisaris R. Widyo Pramono, dan Komisaris Rionald Silaban.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan, pihaknya meyakini jajaran pengurus yang telah ditetapkan pemegang saham adalah individu-individu terbaik yang akan mampu berkolaborasi dalam mengembangkan bisnis perseroan, khususnya di segmen korporat dan retail, sesuai mandat pemegang saham.

“Pengurus baru juga optimis akan dapat melaksanakan fungsi perseroan sebagai agen pembangunan dan agen pencipta nilai secara berkelanjutan guna meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan Indonesia,” ujar Rohan.

Dia menambahkan, salah satu tantangan perseroan ke depan adalah menjaga konsistensi pertumbuhan bisnis perseroan menyusul ketidakpastian perekonomian global, persaingan usaha yang semakin ketat, serta perkembangan cepat industri teknologi informasi, khususnya di sektor keuangan.

“Salah satu inisiatif yang telah kami implementasi, misalnya terkait dengan kampanye Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) dimana perseroan telah mempertajam penerapan bisnis berbasis lingkungan atau Mandiri Eco-Friendly dalam operasional perusahaan untuk ekonomi berkelanjutan,” katanya.

Hingga triwulan III 2019, Bank Mandiri berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang sangat baik, dimana pertumbuhan rata-rata kredit konsolidasi mencapai 11,5 persen (YoY) atau mencapai Rp806,8 triliun pada September 2019. Pertumbuhan kredit tersebut dibarengi dengan perbaikan kualitas, dimana rasio kredit bermasalah (NPL gross) turun 48 bps menjadi hanya 2,53% dibandingkan September tahun lalu. Perbaikan ini membuat Bank Mandiri dapat menurunkan biaya CKPN sebesar 6,27 persen.

Laju pertumbuhan kredit yang berkualitas dan pengendalian biaya operasional melalui dukungan otomatisasi serta digitalisasi mampu mendorong kinerja perseroan hingga mencetak laba hingga Rp20,3 triliun, naik 11,9 persen. dibandingkan pencapaian pada periode yang sama di tahun lalu.

(Arbie Marwan)