Penari membawakan Tarian Remo saat Festival Tunjungan di Surabaya, Jawa Timur, Selasa (26/7). Festival tersebut dalam rangka menyemarakkan PrepCom III UN Habitat. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/aww/16.

Denpasar, Aktual.com – Meski menjadi tuan rumah, tetapi Indonesia tak ikut dalam International Folk Dance Festival atau Festival Tarian Rakyat Internasional.

Direktur Federation of International Dance Festivals Yudi Sumantoro menjelaskan, alasan Indonesia tidak mengikuti kompetisi festival tarian rakyat internasional tersebut.

Menurut dia, Indonesia kini telah menjadi poros budaya dunia. Dulu, ia melanjutkan, Indonesia memang sering promosi ke luar negeri mengikuti even budaya di berbagai negara.

‎”Promosi ke luar negeri itu sudah cukup. Sekarang saatnya kita tarik berbagai even itu ke Indonesia. Kita harus menjadi tuan rumah. Mereka yang harus datang ke Indonesia melihat kekayaan langsung di Indonesia. Kitalah yang harus menjadi poros budaya dunia sekarang ini,” ujarnya di Denpasar, Kamis (6/10).

Alasan tersebut yang membuat Indonesia tidak ikut dalam festival tersebut. Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang kaya dengan tarian tradisional.‎ Folk dance atau tarian rakyat, Yudi menjelaskan, merupakan tarian yang lahir dari kesenian rakyat.

Sekalipun terjadi modifikasi secara modern, namun formulasi gerakan benar-benar berasal dari kesenian rakyat. Hampir di setiap suku di Indonesia memiliki tarian rakyat, tetapi belum terekspose dengan baik dan belum mendunia.

Inilah perbedaan Indonesia dengan berbagai negara lainnya di dunia. Indonesia memiliki banyak tarian rakyat dan festival tarian rakyat internasional tersebut merupakan ajang promosi kekayaan Indonesia di mata dunia.

Festival Tarian Rakyat Internasional diikuti 13 negara di dunia. Mereka di antaranya adalah Argentina, Bulgaria, Republik Ceko, Yunani, Italia, Kazakhstan, Latvia, Polandia, Rusia, Slovakia, Uzbekistan, Thailand dan Taiwan. Festival tersebut digelar di Bali pada 4-8 Oktober di Denpasar dan Gianyar.

Festival ini menjadi ajang pertemuan antar-sanggar, grup tari rakyat, pelaku seni dan para pengambil kebijakan di berbagai negara. Dalam even ini diharapkan tercipta pengalaman dan informasi, membangun kerja sama di berbagai negara dalam bidang budaya.

Laporan: Bobby Andalan

(Wisnu)