Ilustrasi

Jakarta, Aktual.com– Kesehatan dan waktu luang merupakan salah satu nikmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Nikmat yang diberikan ini, bisa dijadikan sebagai jalan untuk berinteraksi dengan Allah dan memerangi hawa nafsu.

Hanya saja, banyak diantara kita tidak memanfaatkan nikmat ini dengan baik, sehingga nikmat itu dicabut oleh Allah dengan diberikannya penyakit dan kesibukan-kesibukan untuk memenuhi kebutuhan duniawi.

Dalam kitab al-Hikam, perkara tersebut sudah ditulis oleh Syekh Ibnu ‘Athaillah dalam ucapan yang penuh hikmatnya, yaitu:

الخذلان كل الخذلان أن تتفرغ من الشواغل ثم لا تتوجه إليه وتقل عوائقك ثم لا ترحل إليه

“Kerugian yang sangat besar ketika engkau terlepas dari berbagai kesibukan, kemudian engkau tidak menghadap kepada-Nya. Atau, engkau diberi sedikit rintangan, tetapi engkau tidak berjalan menuju-Nya.”

Dari ucapan Syekh Ibnu ‘Athaillah kita dapat mengambil suatu pelajaran bahwa ketika seseorang yang mendapatkan waktu luang, akan tetapi waktu tersebut tidak digunakan untuk menghadap kepada Allah adalah orang yang sangat rugi. Sebagaimana firman Allah SWT,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَٰبَ ٱللَّهِ وَأَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُوا۟ مِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَٰرَةً لَّن تَبُورَ

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi.” (QS. Fathir: 29)

Manusia dapat dikatakan sebagai orang yang cerdas apabila Ia senantiasa memanfaatkan waktunya dan menggunakan nikmat sehat dan nikmat waktu luangnya untuk fokus beribadah kepada Allah, tujuannya agar dirinya tidak merugi.

Berkaitan dengan kata merugi pada ayat di atas, Ibnu Hajar menjelaskan dalam kitab Fathul Bari’nya bahwa seorang mukallaf diumpamakan dengan pedagang yang memiliki modal. Dengan kata lain, kesehatan dan waktu luang merupakan modal yang harus dimiliki seorang mukallaf untuk berinteraksi dengan Allah SWT.

Syekh Abdul Karim al-Qusyairi berkata, “Kosongnya hati dari berbagai kesibukan merupakan kenikmatan yang agung. Siapa saja yang mengingkari nikmat ini seperti halnya membuka pintu hawa nafsu bagi dirinya, maka dia akan terdorong untuk dikendalikan syahwat-syahwatnya, nikmat hatinya akan dikacaukan oleh Allah, dan kejernihan pikiran yang telah ditemukannya akan dicabut.”

Semoga kita mampu untuk memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat yang diberikan oleh Allah SWT, sehingga kita tidak digolongkan oleh-Nya sebagai orang-orang yang merugi.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnian)

(Arie Saputra)