Warga mengantre di sebuah rumah sakit di Kota Wuhan, China.
Warga mengantre di sebuah rumah sakit di Kota Wuhan, China.

Jakarta, (07/4) Aktual.com – Juru bicara Kementerian Luar Negeri China (MOFA) Zhao Lijian menegaskan bahwa cuitannya di Twitter pada bulan lalu yang menimbulkan kontroversi itu hanyalah untuk merespons tuduhan politisi Amerika Serikat yang memberikan stigma terhadap China terkait wabah COVID-19.

Saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers reguler di Beijing, Selasa (07/4), apakah cuitan tersebut mencerminkan sikap pemerintah China, Zhao mengatakan bahwa pandangan pemerintahnya tentang asal wabah tersebut sudah sangat jelas bahwa persoalan ini telah menjadi pertanyaan ilmiah dan membutuhkan jawaban para ilmuwan dan profesional.

“Saat ini, ilmuwan dan pakar kesehatan dari berbagai negara berbeda telah melakukan penelitian. Pandangan dan pendapat mereka harus ditanggapi serius,” ujarnya.

“Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di akun pribadi Twitter saya merupakan tanggapan atas stigmatisasi politikus AS terhadap China sehingga memicu kemarahan masyarakat kami atas stigma tersebut,” katanya menambahkan.

Menurut Zhao, masyarakat internasional harus meningkatkan kerja sama memerangi COVID-19 dan pihaknya berharap AS dapat pula bekerja sama dengan China dalam mengendalikan pandemi tersebut.

Pada bulan Maret, dalam akun Twitternya Zhao berspekulasi bahwa tentara AS yang sangat mungkin membawa epidemi itu ke Wuhan, Provinsi Hubei, pada Oktober 2019.

Twit itu juga merespons pengakuan pejabat kesehatan AS yang mendeteksi beberapa pasien flu yang meninggal terinfeksi virus corona jenis baru itu.

Pada 11-27 Oktober 2019 di Wuhan diselenggarakan Pekan Olahraga Militer se-Dunia yang diikuti hampir 4.000 prajurit militer dari 130 negara, termasuk China selaku tuan rumah dan AS.

Zhao mendesak AS bersikap transparan atas wabah tersebut kepada publik.

Saat ini AS menduduki peringkat pertama kasus tertinggi COVID-19 di dunia yang mencapai angka 368.449 dengan jumlah kematian 10.994 orang.

Sementara China yang sempat memimpin selama hampir tiga bulan, kini justru berada di urutan keenam kasus terbanyak dengan 81.740 kasus termasuk 3.331 orang meninggal dunia di bawah AS, Spanyol, Italia, Jerman, dan Prancis.

Menurut rencana, Wuhan yang sebelumnya dianggap sebagai episentrum COVID-19 akan dicabut status isolasi wilayah pada Rabu (8/4). Di kota dengan perekonomian terbesar kedelapan China itu semua aktivitas bisnis dan industri serta sosial ditutup total sejak 23 Januari 2020 untuk mempersempit penularan wabah, namun sejak 11 Maret telah dibuka secara bertahap.

 

Antara

(As'ad Syamsul Abidin)