Jakarta, Aktual.com – Koordinator Tim Penyelamat Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Sholeh Amin mendesak Suharso Monoarfa untuk mengundurkan diri dari kursi Ketua Umum PPP karena telah merobohkan fondasi partai berlambang ka’bah tersebut dengan menghina dan merendahkan kiai dan pesantren.

“Pidato beliau di depan KPK inilah yang akan melahirkan demo dimana-mana ketidakpercayaan dimana-mana yaitu terkait ‘kiai amplop’,” kata Sholeh melalui aplikasi Zoom dalam Dialog Aktual: Buruk Muka Suharso, Suara PPP Dibelah, Rabu (31/8).

“Bahkan salah satu ketua MUI kholil nafis sudah menanggapi dan menyayangkan hal itu, salah satu ketua PBNU juga menyatakan hal yang sama,” tuturnya.

Sholeh menambahkan, Suharso telah merobohkan pondasi PPP yang kebanyakan pendukungnya merupakan para kiai dan kaum pesantren.

“Sebagai gambaran, sebagaimana yang kita sama ketahuai PPP ini kalau seandainya rumah yang dia robohkan itu fondasinya, oleh ketua umum itu, ketika fondasinya itu dirobohkan rusak itu bangunan itu,” jelasnya.

“Saya kira bukan hal yang tidak disadari bahwa hal ini akan mempengaruhi elektabilitas PPP pada pemilu mendatang,” tambahnya.

Menurut Sholeh, banyak isu-isu yang mestinya disorot oleh ketua umum PPP saat ini yang akan sangat mempengaruhi elektabilitas partai, khususnya soal gender, gratifikasi, persoalan internal dan pelanggaran ADRT di internal partai.

“Seorang ketua umum itu harus sensitif terhadap isu-isu yang berkorelasi terhadap elektabilitas partai, misalnya isu gender, kita kan mengharapkan atensi dari kaum perempuan untuk meraih suara pada pemilu yang akan datang,” katanya.

“Saya melihat ada semacam niat tidak baik terhadap keberadaan PPP sebagai partai politik parlemen, oleh karena itu tim hukum penyelamat PPP merasa perlu melakukan hal-hal yang perlu diselamatkan,” tukasnya.

“Menyelamatkannya ya dia harus mengundurkan diri kalau mengundurkan diri konsolidasinya gampang,” tegasnya.

“Kemudian yang secepatnya harus dilakukan adalah memulihkan kembali relasi partai dengan kiai dan ulama karena segmen elektoral kita selama ini adalah mereka,” pungkasnya.

Sebelumnya, Suharso Monoarfa oleh sejumlah pihak dianggap telah menghina dan merendahkan harkat martabat kiai serta pesantren lewat pidatonya yang berkaitan dengan “amplop kiai” di KPK beberapa waktu lalu, Suharso menyebut pemberian sesuatu ketika silaturahmi atau sowan kepada kiai disamakan dengan budaya korupsi.

(As'ad Syamsul Abidin)