Jakarta, Aktual.co — Pascapelantikan Jokowi-JK sebagai presiden dan wakil presiden terpilih, masyarakat menunggu siapa yang akan dipilih untuk mengisi posisi menteri strategis seperti Menteri Keuangan, ESDM, Menko Perekonomian dan Menteri BUMN. Belakangan terakhir mencuat nama Rini Soemarno kandidat kuat menteri BUMN. Lalu siapakah Rini Soemarno?

Rini Soemarno atau lebih lengkapnya Rini Mariani Soemarno Soewandi lahir di Maryland, Amerika Serikat pada 9 Juni 1958. Rini adalah mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan pada Kabinet Gotong Royong. Dirinya menjabat Menteri Perindustrian pada tahun 2001 hingga 2004. Saat itu, Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai presiden.

Ketika menjabat Menteri Perindustrian, Rini memiliki rekam jejak yang buruk terkait dugaan keterlibatannya dalam kasus korupsi penerbitan SKL (Surat Keterangan Lunas) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang merugikan negara triliunan rupiah. Dirinya juga sempat diperiksa penyidik Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta terkait kasus dugaan korupsi penjualan aset pabrik guna RNI (Rajawali Nusantara Indonesia).

Selain itu, dalam kasus pembelian pesawat Sukhoi, Rini disebut DPR melakukan pelanggaran UU Pertahanan dan UU APBN tanpa persetujuan legislator. Hingga saat inipun, kasus yang menimpa Rini belum bisa tertuntaskan.

Direktur IRESS mengatakan bahwa rekam jejak Rini yang buruk tersebut sangat tidak mumpuni untuk menjadi seorang Menteri.

“Kalau sampai seperti itu, maka artinya Jokowi memang terpaksa menerima orang yang disodorkan kepadanya dari pihak berkepentingan di belakangnya,” kata Marwan kepada Aktual.co.

Senada dengan Marwan, peneliti dari IGJ, Salammuddin Daeng mengatakan bahwa Rini Soemarno memiliki track record yang buruk terkait penghancuran industri nasional dan memberi kontribusi besar terhadap dominasi perusahaan otomotif asing di Indonesia.

“Kabinet Jokowi tidak semata mata harus bebas dari korupsi, namun multak harus berisikan orang orang yang memiliki komitmen yang besar untuk menjalankan agenda kerakyatan dan melepaskan dirinya sama sekali dari rezim neoliberal dan tekanana rezim internasional,” tegasnya.

Menurutnya, pejabat menteri yang korup tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan seorang menteri yang memiliki keyakinan neoliberal. Seorang koruptor hanya mencuri anggaran negara. Tapi seorang neoliberal menjual negara kepada asing secara gelondongan.

Jika seorang koruptor selalu diusulkan dihukum berat, maka seorang yang neoliberal yang terbukti berbakti, mengadaikan kedaualatan negara dan konstitusinya pada modal asing, pantas dihukum mati sebagai pengkhinat bangsa.

Dalam hal mengarungi biduk bahtera keluarga, pasangan Rini Seomarno dan Didik Soewandi berakhir dengan tragis setelah 23 tahun bersama. Didik mengajukan cerai terhadap Rini. Menurut Didik, sang istri sudah berubah sejak masuk ke kalangan birokrat di Departemen Keuangan tahun 1996 Pasangan Rini dan Didik dikaruniai dua anak, Yhodananta dan Nindia, keduanya sudah dewasa.

Ketika Menteri Keuangan dijabat Fuad Bawazier, Rini sempat menjadi Asisten Bidang Hubungan Ekonomi Keuangan Internasional Kemenkeu. Kemudian pada April, pemerintah mengangkatnya menjadi Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Namun dua jabatan itu hanya kuat dijalani Rini dalam hitungan bulan. Rini akhirnya kembali ke Astra.

Ketika di Astra, beberapa langkah Rini dijalankan seperti program efisiensi usaha melalui pemotongan gaji jajaran eksekutif, penutupan jaringan distribusi yang kurang strategis, serta pengurangan 20 persen karyawan dari 100 ribu karyawan Astra.

Seperti dikutip dari Wikipedia dan berbagai sumber, berikut rekam jejak karier Rini Soemarno
Komisaris Aora TV di Jakarta (2008)
Presiden Direktur PT Kanzen Motor Indonesia (2001-2005)
Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Gotong Royong (2001-2004)
Presiden Direktur PT Semesta Citra Motorindo (2000-2001)
Presiden Direktur PT Astra Internasional (1998-2000)
Direktur Keuangan Astra Internasional (1990-1998)
Presiden Komisaris PT Semesta Citra Motorindo (2000)
Komisaris PT Agrakom (2000)
Presiden Komisaris PT Astra Agro Lestari (1999)
Staf Ahli Departemen Keuangan Republik Indonesia (1998)
Wakil Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (1998)
Komisaris PT Astra Agro Lestari (1995)
Komisaris Bursa Efek Jakarta (1995)
Wakil Presiden Komisaris PT United Tractors (1993)
Komisaris Bank Universal (1990)
General Manager Finance Division, PT Astra International (1989)
Vice President Citibank N.A, Jakarta (1988-1989)
Trainee Departemen Keuangan USA, Office of Multilateral Development Bank, USA (1981-1982)
Pengurus Pinjaman Bank Dunia untuk Negara-negara Asia Afrika, Departemen Keuangan Amerika Serikat, USA (1979-1980)

(Eka)