Jakarta, aktual.com – Kejadian ini saat perayaan maulid Sayyidina Hussain di Kairo. Ibu dan seorang putrinya (berasal dari daerah Sha’id, Mesir bagian selatan) hendak mengunjungi perayaan maulid pada tahun 2005 yang digelar di masjid dan makam cucu Rasulullah tersebut. Mereka sangat mencintai Ahlu Bait Rasulullah Saw. sebagaimana kebanyakan orang Mesir. Keduanya berangkat untuk mengikuti malam penutupan.

Akan tetapi, keduanya ketinggalan kereta api. Namun, lebih nahas lagi; mereka tidak bisa mencari kendaraan selanjutnya saat berada di Provinsi Qina. Kemudian, sang ibu meminta tolong salah seorang sopir truk untuk mengantarkan ke terminal terdekat. Sopir itu mengamini permintaannya dan segera melajukan truk besarnya.

Tengah malam, entah iblis mana yang membujuk sopir sehingga ia terdorong untuk memerkosa. Lalu, ia membelokkan truknya saat melewati jalan padang pasir. Ia memaksa anak gadis si ibu yang menumpang tadi untuk menanggalkan pakaian. Jika enggan, dibunuh.

Sang ibu menangis sejadi-jadinya sembari memohon agar si sopir mengurungkan perbuatan nistanya. Sebaliknya, sopir semakin brutal.

Pilihan terakhir, ibu berkata, “Jika memang kau tetap ingin melakukan hal keji ini, ambil saja aku sebagai ganti anakku!”.

Tak disangka, si sopir setuju. Ibu kembali menangis sejadi-jadinya dan berucap dengan logat Mesir, “Kenapa malah seperti ini, ya Sayyidana Husain? Aku dan anakku ini dalam perjalanan berkunjung kepadamu,”

Di sinilah karomah Sayyidina Husain berawal. Ibu, putrinya, dan sopir truk tadi dikejutkan oleh sorot lampu mobil polisi yang mendekat.

Tak ada yang turun kecuali seorang polisi, nampaknya polisi patroli biasa. Namun, di antara mereka ada seorang polisi berpangkat tinggi, dilihat dari perawakannya yang tegap besar dan berwajah tampan-bersih. Hal itu membuat si sopir yakin bahwa ia sedang berurusan dengan polisi.

Dibawalah si sopir, ibu, dan anak tadi ke Polda Qina. Polisi patroli yang ikut menggerebek itu menjelaskan insiden yang terjadi. Seorang petugas jaga di Polda Qina meminta tanda tangan (untuk surat laporan atau mahdhor dalam istilah kepolisian Mesir) dari polisi yang kelihatannya berpangkat tinggi tadi (sebut saja Pak Jendral). Tentu karena dia yang datang ke TKP bersama si polisi patroli itu.

Petugas jaga tetap meminta tanda tangan Pak Jendral sesuai aturan yang berlaku meski nampak agak keberatan. Akhirnya, ia mengiyakan dan menandatangani surat laporan supaya segera selesai. Pak Jendral dan polisi patroli segera bergegas pergi mengantar ibu-anak tadi menuju Kairo.

Saat surat laporan dan tanda tangannya dicek, polisi jaga di Polda Qina terkejut dengan tulisan ‘Husain bin Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib,’.

Sampai saat ini, kertas tersebut masih tersimpan rapi dan masuk dalam inventaris Polda Provinsi Qina. Tanda tangan tak ternilai harganya, tanda tangan dari tangan mulia Sayyidina Husain.

Ibu dan anaknya kini hidup dengan rizki berkecukupan.

Waallahu a’lam

Sumber Fans page Suara Al-Azhar.

(Rizky Zulkarnain)