Ilustrasi- Ibnu ‘Arabi

Jakarta, Aktual.com – Shalawat menjadi suatu amalan yang sering dikerjakan oleh umat Muslim. Allah SWT berfiman dalam surat al-Ahzab ayat 56,

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Ayat di atas dengan jelas menyebutkan bahwa Allah dan para Malaikatnya bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Karena kemuliaan Beliaulah kita masih bisa merasakan keimanan yang nyata seperti ini. Bahkan, ada Ulama yang mengatakan bahwa Dunia ini tidak diciptakan melainkan karena Ruh Nabi Muhammad SAW.

Karena kecintaannya kepada Nabi Muhammad, Para Ulama menggubah dan menciptakan shalawat versi mereka sendiri, salah satunya shalwat Ibnu ‘Arabi. Beliau merupakan seorang Wali Allah yang sangat Masyhur. Berikut bacaan shalawat Ibnu ‘Arabi:

اللّهُمَ صَلِّ عَلَى الذَاتِ المُطَلْسَمِ ، والغَيْبِ المُضَمْضَمِ والكَمَالِ المُكْتَتَمْ ، لاهُوتِ الجَمَال ونَاسُوتِ الوُصَالْ ، طَلْعَةِ الحَقِّ كَثَوبِ عَيْنِ إنْسَانِ الأزَلْ ، في نَشْرِ مَنْ لَمْ يَزَل ، مَنْ أقامَتْ بِهِ نَواسِيتُ الفَرقِ ، في قَابِ قَوْسِهْ نَاسُوتَ الوِصَالْ ، الأقْرَبِ إلى طُرِقِ الحَقْ ، فَصَلِّ اللّهُمَّ بِهِ فِيهِ مِنْهُ عَليه وسَلِّمْ

Shalawat ini diberi komentar oleh seorang sufi asal Damaskus yaitu Syekh Abdul Ghani An-Nabulsi. Dalam komentarnya beliau memberikan sebuah kisah yang menakjubkan tentang Shalawat ini, berikut kisahnya:

Dikisahkan ada seorang pedagang beriman melakukan perjalanan niaganya ke India. Di tengah perjalanan ia dicegat oleh sekawanan perampok yang hendak merampas barang dangannya.

Semua barang yang dibawanya dari Damaskus raib dibawa oleh perampok. Ia pun terpaksa terus melanjutkan perjalanannya hingga sampai ke kota. Kemudian Ia bermalam di sebuah masjid. Sebelum tidur pedagang ini memanjatkan doa tawasul kepada Nabi SAW agar diberikan rezeki yang sekiranya cukup mengantarkan Ia kembali ke daerahnya.

Dalam sebuah mimpi ia bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpi itu Nabi bersabda kepada pegadang itu untuk menemui seorang bernama Sulaiman yang masih keturunan seorang Wali besar.

Selanjutnya Nabi mengatakan, untuk menyampaikan salam dan berpesan kepadanya untuk memberikan seribu dinar kepada pedagang itu. Esok harinya, setelah bertanya tentang keberadaan Sulaiman yang dimaksud oleh Nabi SAW dalam mimpinya, ia segera menemui Sulaiman dan menyampaikan pesan Nabi kepadanya.

“Nabi menyampaikan salam kepadamu. Beliau juga memerintahkan kepadamu untuk memberikan uang seribu dirham kepadaku,” ucap pedagang yang beriman.

Sulaiman hanya tersenyum dan sedikit tertawa seolah tidak percaya apa yang diucapkan oleh Pedagang itu. Lalu, ia hanya memberikan sedikit dirham kepadanya.

Malam harinya, Pedagang yang beriman bermimpi bertemu dengan Nabi SAW lagi. Dalam mimpi yang kedua ini, Beliau kembali berpesan seperti sebelumnya. Ia menjawab, “Duhai baginda Nabi, Hamba sudah menyampaikannya. Namun, Ia tidak memberikan uang kecuali sedikit sekali,”

Nabi bersabda, “Sampaikan kepadanya, sebagaimana kamu membacakan shalawat kepada Nabi di setiap malam sebanyak tujuh puluh ribu shalawat, berikanlah kepadaku seribu dirham.”

Esok harinya Ia kembali menemui Sulaiman dan menyampaikan pesan Nabi, “Nabi memerintahkan kepadamu untuk memberiku seribu dirham emas sebagaimana kamu membacakan shalawat tujuh puluh ribu kali setiap malam,”

Sulaiman meragukan apa yang diucapkan Pedagang ini, Ia bergumam dalam hati, “Aku tidak pernah membaca shalawat sebanyak itu dalam setiap malam. Jika pun aku melakukan hal itu, aku tidak mungkin tidur sepanjang malam untuk membaca Shalawat.”

Pedagang tersebut kembali ke Masjid untuk beristirahat. Nabi Muhammad SAW kembali hadir dalam mimpinya. Ia mengadu kepada beliau, “Duhai Nabi, Hamba sudah melaksanakan perintah engaku. Tapi Ia masih tidak percaya dengan ucapanku,” keluhnya kepada Nabi.

Lalu Nabi bersabda kepadanya, “Sebagaimana kamu membaca salawat kepada Nabi di setiap malam, yang mana salawat tersebut menggantikan tujuh puluh ribu salawat kepada Nabi dan pahalanya menyamai salawat Dalail Khairat, berikan kepadaku uang sebesar seribu dirham.”

Esok harinya Ia menemui Sulaiman dan menyampaikan salam dari Nabi SAW. Ia kaget bukan kepalang dan menangis, sebab menurutnya ia rutin membaca Shalawat tersebut dan selain Allah tidak ada satupun orang yang mengetahui ia membaca Shalawat itu secara rutin.

Kemudian ia memberikan setengah dari seluruh hartanya kepada pedagang yang beriman ini dan setengahnya lagi ia berikan kepada fakir miskin. Lalu ia pergi sowan untuk menemui para wali dan orang-orang Shaleh hingga Ia wafat.

Itulah salah satu dari keutamaan bershalawat karya Ibnu ‘Arabi yang diceritakan oleh Syekh Abdul Ghani an-Nalbusi.

Waallahu a’lam

(Rizky Zulkarnian)

(Arie Saputra)