Maulana Syarif Sidi Syaikh Dr. Yusri Rusydi Sayid Jabr Al Hasani saat menggelar Ta’lim, Dzikir dan Ihya Nisfu Sya’ban (menghidupkan Nisfu Say’ban) di Ma’had ar Raudhatu Ihsan wa Zawiyah Qadiriyah Syadziliyah Zawiyah Arraudhah Ihsan Foundation Jl. Tebet Barat VIII No. 50 Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). AKTUAL/Tino Oktaviano

Kairo, Aktual.com – Kefakiran itu hakikatnya bukan dengan kosongnya kantong dari uang/harta, tapi kefakiran sebenarnya adalah ketika hati kosong dari berpegang teguh pada Allah.

Jadi kekayaan itu bukan dengan dengan banyaknya harta, tapi rasa cukup dengan Allah SWT..

Begitu banyak orang yang punya harta tapi sebenarnya fakir karena merasa tidak cukup, terus mencari & penuh ketakutan..

Sementara jika seseorang yang meskipun tak berpunya tapi hatinya berpegang pada Allah maka keadaan hidupnya lebih kaya dari raja..

Jadi, kamu tidak usah menampakkan ketidakpunyaan pada siapapun..

Selama hidupku, aku selalu dipandang paling kaya oleh keluarga & orang2 sekitarku.. padahal begitu lama aku hidup; hartaku hanyalah yang ada di kantongku.. tidak punya tabungan sama sekali di bank..

Bahkan suatu hari sepulang shalat jum’at di Sayyiduna al-Husain, uangku dicuri.. aku pulang tanpa uang bahkan tidak bisa beli bensin, aku pun meminjam uang pada ibuku..

Satu2nya orang yang mengetahui aku tidak punya uang hanyalah ayahku, karena beliaulah yang memaksaku menikah & berjanji membeayaiku..

Tapi beliau meninggal saat aku di magister & punya anak 4 orang.. beliau meninggalkanku setelah memaksaku untuk maju.. jadi hanya ayahku yang mengetahui keadaanku sampai beliau meninggal tahun 1985..

Ibuku tidak tau kalau aku kadang tidak punya uang… Isteriku pun tidak pernah mengetahui..

Aku bahkan pernah membongkar radio mobil & menjualnya karena benar2 aku tidak punya uang sepeserpun… aku tidak pernah terfikir untuk memakai uang saudari2ku di bank padahal uang itu begitu banyak & semuanya diwakilkan padaku..

Suatu hari di bulan Ramadhan, anakku sudah 5, aku keluar rumah menuju hospital tanpa ada uang sepeserpun.. hatiku gundah.. tiba2 aku melihat iklan lomba menghafal al-Qur’an di masjid hospital.. hadiahnya 80 pound.. masa itu tinggi, senilai 3000an pound klu sekarang..

Aku pun pergi mendaftar, yang mengurus pendaftaran adalah dokter ahli lebih tua dariku tapi aku yang melatihnya bedah.. aku lebih darinya di bidang ilmu & teknik bedah.. Dia bingung aku mau apa; aku katakan mau ikut lomba, aku tidak cerita kalau sedang memerlukan uang..

Setelah itu datang imam masjid di masjid sebelah datang mendaftar juga.. sepertinya dia juga perlu uang..

Perlombaan diadakan, aku menjawab, imam itu juga menjawab.. aku no 1, imam itu no 2.. tampak keadaan imam itu memprihatinkan, aku pun membagi 2 hadiah itu.. setengahnya untuk sang imam..

Aku selalu dikira sebagai orang kaya, bahkan teman2ku saat memerlukan uang selalu datang mencariku.. Kedekatan pada Allah SWT & berpegang teguh pada-Nya menjadikan kaya seseorang..

Sayyiduna Nabi ﷺ suatu hari keluar rumah di tengah terik matahari yang bukan biasanya orang keluar.. bertemu Sayyiduna Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu yang juga keluar.. ternyata keduanya keluar karena lapar… seperti yang kita ketahui dari hadits al-Bukhari..

Sayyiduna Nabi ﷺ sangat dermawan.. Sayyiduna Abu Bakr sendiri memberikan hartanya pada Sayyiduna Nabi ﷺ.. yang membagi2kannya pada kaum muslim.. akhirnya keduanya senasib dalam kelaparan..

Kok bisa sampai terjadi itu padahal Sayyiduna Utsman radhiyallahu ‘anhu, menantu Sayyiduna Nabi ﷺ merupakan seorang yang sangat kaya raya??

Sayyiduna Utsman itu sangat mencintai Sayyiduna Nabi ﷺ, seandainya mengetahui hal itu tentu akan mengantarkan beberapa ekor unta yang membawa penuh makanan..

Tapi Sayyiduna Nabi ﷺ merahasiakan keadaan diri bahkan pada orang-orang terdekat Beliau ﷺ.. maka rahasiakanlah keadaan diri kalian.. ini sunnah Nabawiah..

Ketika menginginkan sesuatu, tidak penting sesuatu itu kita gapai hari ini, besok, atau bahkan 10 tahun yang akan datang..

Jangan memandang apa yang berada di tangan siapapun, meskipun kuncinya ada di tanganmu, baik itu milik saudaramu atau bahkan ayah & ibumu..

Itulah kekayaan menurut ahli tashawwuf, bukan di kantong, tapi di hati.

Kefakiran adalah ketika kamu melihat & mengharapkan yang ada di tangan orang..

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

علمتُ أن القناعة رأس الغنى .. فصِرتُ بأذيالها متمسـك
فلا ذا يراني علـى بابـه… ولا ذا يراني به منهمـك
فصرت غنياً بـلا درهـمٍ… أمر على الناس شبهَ الملك

 

“Aku mengetahui bahwa qana’ah (rasa cukup) merupakan modal kekayaan.. makanya aku berpegang erat dengan ekor2nya. Makanya orang ini tidak ada yang melihatku di pintu & orang ini tidak melihatku gundah.. Sehingga aku menjadi kaya meskipun tidak punya dirham & aku berjalan di tengah orang bagaikan seorang raja”.

Bait2 ini sangat menggambarkan keadaan diriku..

Jadi ketika kamu merasakan kefakiran pada Allah SWT, maka kamu menjadi kaya dengan-Nya.

Jika berpegang dengan dzahab (emas) maka itu akan dzahab (pergi).

Jika berpegang dengan fidhdhah (perak) maka itu akan infadhdhat (berserakan).

Jika berpegang dengan dinaar (uang emas) maka itu menjadi dain (hutang) & naar (neraka).

 

Faedah dars kamis pagi, 3 Juni 2021M, 22 Syawwal 1442H, bersama Maulana Syaikh Yusri Rusydi al-Hasani hafizhahullah.

Hilma Rosyida Ahmad

(As'ad Syamsul Abidin)