jakarta, aktual.com – Melanjutkan kisah Imam Abul Hasan asy-Syadzili, sebelumnya dikisahkan bahwa Imam asy-Syadzili berangkat menuju Tunisia dan menetap di bukit Zaghwan untuk fokus beribadah.

Setelah merasa cukup melakukan khalwat dan perenungan, Imam asy-Syadzili keluar dari khalwatnya dan hidup di tengah keramaian masyarakat. Dengan kapasitas ilmu, ketakwaan, dan kesalehannya, ia segera menjadi pusat perhatian dan cinta manusia.

Makin hari jumlah murid, pengikut dan pecintanya makin banyak. Namun, semakin banyak orang yang mengikuti dan mendekatinya, semakin besar pula tantangan dan kesulitan yang dihadapinya.

Saat pengaruhnya semakin luas, muncul orang yang mendengki dan tidak menyukainya. Kedengkian itu muncul terutama dari pemuka agama dan tokoh masyarakat yang merasa tersaingi ketenarannya. Salah seorang yang cukup mendengkinya adalah hakim Abul Qasim al-Barra’.

Al-Barra’ tidak suka melihat Imam asy-Syadzili mendapatkan banyak murid dan pengikut. Maka, ia menyebar isu, baik kepada khalayak umum maupun para tokoh masyarakat bahwa Imam asy-Syadzili adalah mata-mata yang datang dari Maroko ke Tunisia untuk menyebarkan paham Fathimiyah.

Silsilah keturunan Imam asy-Syadzili yang tersambung kepada Fathimah bin Rasulullah Saw dijadikan dalih yang menegaskan hubungannya dengan Dinasti Fathimiyah. Tuduhan ini akhirnya sampai ke telinga Sultan. Tidak hanya itu, al-Barra’ menebar berbagai tuduhan lain yang memberatkan Imam asy-Syadzili. Semua itu ia lakukan semata-mata karena dengki kepadanya.

Sultan segera bergerak memerintahkan beberapa ulama untuk menguji dan bertanya-jawab dengan Imam asy-Syadzili sehingga ia dapat mengetahui siapa sesungguhnya Imam asy-Syadzili dan pengaruhnya di tengah masyarakat.

Para ulama yang dikumpulkan menanyakan berbagai hal baik soal akidah, fikih, tasawuf, hingga masalah sosial dan politik. Mereka ingin membuktikan tuduhan al-Barra’ yang mengaitkan Imam asy-Syadzili dengan Dinasti Fathimiyah. Namun tanya-jawab tersebut justru membuktikan ketulusan dari sang Imam.

Imam asy-Syadzili dengan sangat meyakinkan dapat menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan. Ia jelaskan dengan sungguh-sungguh bahwa semua kabar yang menyerang dirinya adalah dusta. Ia datang ke Tunisia bukan untuk mencari pangkat atau kedudukan. Ia datang bukan sebagai pendukung Fathimiyah yang ingin mengguncang kekuasaan sultan.

Imam asy-Syadzili menyadari sepenuhnya bahwa semua itu merupakaan ujian besar, yang juah-jauh hari telah dikabarkan gurunya, Ibn Masyisy. Dulu, gurunya pernah bilang, “Kau pindah ke Tunisia dan di sana kau akan berurusan dengan sultan,”.

Semua penjelasan dan tuturan Imam asy-Syadzili menyadarkan sultan dan para ulama lain bahwa mereka telah termakan muslihat al-Barra’. Sultan pun mengakui ketulusan dan ketakwaannya. Karena luasnya keilmuan Imam asy-Syadzili, Sultan berkata kepada al-Barra’, “Orang ini ulama besar. Kau tidak ada apa-apanya dihadapan dia!,”.

Namun, al-Barra’ tetap tidak terima dengan keberadaan Imam asy-Syadzili, berbagai upaya terus dilakukan al-Barra’ untuk merendahkan dan membatasi pengaruhnya. Namun, upayanya sia-sia. Sultan dan para petinggi lainnya tidak terpengaruh seruan dan fitnah gencar al-Barra’. Bahkan sultan akhirnya benar-benar meyakini ketulusan dan ketakwaan Imam asy-Syadzili setelah saudara dan orang-orang dekatnya meyakinkan bahwa Imam asy-Syadzili bukanlah mata-mata Fathimiyah, dan bahwa ia sungguh-sungguh seorang alim, seorang syekh yang tulus mengajar dan menasihati umat.

Waallahu a’lam

Bersambung

(Rizky Zulkarnain)