Jakarta, Aktual.co — Anda penasaran dengan Museum layang-layang di Jakarta?. Ya, bila Anda penasaran, Anda bisa mengunjungi Museum tersebut di Jl. H. Kamang No. 38, Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Museum yang didirikan oleh Endang W Puspoyo pada 21 Maret 2003 itu memiliki luas area sekitar 2750 meter persegi. Museum berarsitektur Jawa Tengah ini sudah berumur ratusan tahun.

Museum layang-layang dibuka setiap hari (kecuali hari libur nasional), pada pukul 09.00 WIB-17.00 WIB. Tarif masuknya hanya Rp10.000 per orang.

“Dengan kegiatan nonton festival layang-layang di ruang audio visual, tur Museum, membuat dan mewarnai layang-layang (harga Rp10.000-Rp50.000), membuat keramik dari tanah liat. Terus melukis payung, wayang, dan lampion. Tapi, anak-anak yang paling senang membuat keramik sama layangan,” urai Asep Irawan, pemandu (guide) Museum layang-layang, di Jakarta.

Selain pengunjung lokal, kata Asep, warga negara asing (WNA) juga banyak yang datang mengunjungi Museum layang-layang di Jakarta. Menurutnya, layang-layang pertama kali diciptakan serta ditemukan di China.

“Masih belum jelas sejarah layang-layang. Tapi, dari berbagai literatur layang-layang ditemukan di Tiongkok. Kira-kira 3000 tahun lalu,” imbuhnya.

Dari ‘Negeri Panda’, kemudian layang-layang menyebar ke berbagai negara. Diantaranya, Korea Selatan, Jepang, Malaysia, dan India.

Asep menerangkan, hasil penelitian Arkeolog Nasional di tahun 1981, 1986, dan 1991, menyatakan bahwa layang-layang di Indonesia pertama kali ditemukan di pulau Muna, Sulawesi Tenggara. “Dulu orang Sulawesi Tenggara pakai layang-layang itu buat cari Tuhan di langit,” pungkasnya.

()