Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjawab pertanyaan wartawan usai diperiksa Bareskrim di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (14/7). Ahok diperiksa terkait proses pembelian lahan di Cengkareng Barat, Jakarta Barat. ANTARA FOTO/Reno Esnir/Spt/16.

Jakarta, Aktual.com – Suhu politik ibukota kian panas menjelang perebutan kembali kursi DKI I. Tabiat Cagub Petahanan, Basuki Tjahaja (Ahok) yang arogan dan kasar semakin mengucilkan dirinya dari masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat kecil.

Walau tidak terungkap ke permukaan publik secara masif, namun Pengamat Publik, Ferdinand Hutahaean mengungkapkan, gelombang penolakan terhadap Ahok telah terjadi di berbagai wilayah Jakarta.

“Suhu politik dipastikan panas nanti. Basuki Tjahaja Purnama yang mempunyai kepribadian tidak bersahabat dan kasar, telah memancing aksi penolakan secara terbuka dari rakyat Jakarta,” kata Ferdinand, Rabu (3/8).

Dia memantau di Jakarta Utara pernah terjadi aksi ‘perjuangan intifada’ yang mana saat itu masyarakat secara ramai-ramai menolak dan melempari kedatangan Ahok untuk meresmikan sebuah taman.

Sedangkan di Jakarta Timur muncul spanduk penolakan kehadiran Ahok pada acara Festival Condet. Kemudian di Jakarta Barat, Pusat dan Selatan mulai muncul penolakan terhadap Ahok melalui Forum RT RW DKI Jakarta.

“Penolakan terhadap Ahok oleh rakyatnya adalah wujud nyata dan tak terbantahkan bahwa sesungguhnya Ahok tidak lagi diinginkan memimpin Jakarta karena Ahok terlalu kontroversial dan sering bikin gaduh. Ahok itu cagub yang penuh problematik,” ujarnya.

Ferdinand menegaskan; baginya kepribadian Ahok bukan hanya sekedar berisik tapi juga kasar, temperamen tinggi, tidak berbudi pekerti baik, tidak bermartabat, bahkan tidak jujur dan terindikasi kasus korupsi.

“Diantara kasus yang terang-benderang adalah Pembelian lahan RS Sumber Waras, Pembelian lahan milik sendiri di cengkareng dan kasus dana retribusi reklamasi,” pungkasnya. (Dadangsah)

(Ismed Eka Kusuma)