KH. Muhammad Danial Nafis MA.

Jakarta, aktual.com – Dzikir adalah pintu gerbang dan modal utama seorang salik [orang yang berjalan] menuju Allah, dzikir merupakan kunci keghaiban dan penarik segala kebaikan. dapat membuat ruhani kita semakin kuat dan kokoh, menghindarkan dari godaan jin, setan dan hawa nafsu, dzikir merupakan peneduh jiwa, menghapus kegalauan dan gundah gulana dalam hati, bahkan dikatakan: orang yang berdzikir adalah teman duduk bagi Allah (akan mendapatkan ilmu dan rahasia Allah).

Dzikir adalah pintu untuk membuka keghaiban, namun keghaiban yang dimaksud bukanlah sekedar bisa melihat jin. itu bukan tujuan salik. tetapi mencapai ruhul qudsiah (ruh suci /sejatinya diri manusia), menembus alamul malakut sampai alamul jabarut hingga masuk ke alam ketuhanan (al-laahut).

Latihlah agar selalu melanggengkan dzikir karena setan akan menunggangi kita ketika kita lalai dari berdzikir. Seandainya dibukakan tirai pandangan kita untuk melihat iblis, maka akan nampak iblis menunggangi seseorang seperti sedang menunggangi khimar (keledai) yang dijadikan mainan diarahkan kemana iblis mau, dan akan tetap seperti itu sampai kita mulai berdzikir kembali.

Setan mengarahkan kita pada perbuatan maksiat secara dhohir. Namun bisa dilepas dengan dzikir dan sholat, karena saat mengingat Allah, setan akan lari dan terpental. Namun berbeda dengan nafsu, yang mengarahkan pada kehendak dan keinginan, tidak akan terlepas sampai hal itu terwujud. Jika dituruti nafsu akan semakin naik dan membabi buta dan menjadi penghalang terbesar kita dalam perjalanan menuju Allah swt. Disini lah perlunya melatih dzikir dari mulai dengan dzikir jahr (bersuara) dan khofy (tanpa suara), agar dzikir itu meresap kedalam sanubari terdalam.

Kenapa harus melanggengkan dzikir?

Rasulullah saw bersabda:

من كان آخر كلامه لا اله إلا الله دخل الجنة

siapa yang pada akhir hayatnya mengucapkan ‘laa ilaaha Illa Allah’ ia akan masuk surga

ada penelitian terkait ini, dari seribu orang muslim di jakarta hanya tujuh puluh orang saja yang sempat mengucapkan kalimat tauhid saat ajal menjemput. Artinya hanya tujuh persen saja. Berarti kemungkinan ingat Allah di akhir hayat itu sangatlah kecil. Lalu bagaimana dengan kita nanti?.

Tingkatan dzikir, pertama adalah sadar akan dzikir yang dilakukan, selanjutnya masuk ke dalam dzikir, lupa diri karena lebur didalamnya. Merasakan kehadiran Allah (Hudhur), hanya fokus pada Allah, merasa diawasi Allah atau bahkan merasa sedang menyaksikan Allah swt, pada tingkatan ini membutuhkan konsentrasi dan bimbingan mursyid.

dikisahkan ada seorang ahli dzikir yang kepalanya terkena batu sampai berdarah-darah. Namun saat darahnya menetes ketanah, darah itu mengalir dan membentuk asma Allah swt.

Dengan dzikir seorang salik  akan mendapatkan buah-buah kebaikan (tsamarotud dzikr). Ada wirid ada warid, warid adalah pemberian dan anugrah Allah kepada seorang hamba yang menjaga wiridnya dan merupakan urusan dan Haq Allah Taala, kita jangan ikut campur. jangan sampai dalam wirid ada motivasi lain selain Allah swt. seperti karena ada hajat atau ingin kekeramatan.

Tidak dianjurkan kita berdzikir karena suatu sebab, seperti mendengar cerita Fulan setelah berdzikir hasbunallah wa ni’mal wakil sekian kali, pekerjaannya menjadi lancar, pesaing-pesaing nya menghilang. Karena dzikir kita bukan dzikir pedagang, yang mencari keuntungan dan khasiat.Bahkan sering kita dengar ; “dzikir ini ada khodam jin dan malaikat”, ketahuilah bahwa tujuan dzikir kita bukan itu.

Jika keutamaan suatu dzikir di ceritakan, agar orang lain tertarik untuk berdzikir maka itu diperbolehkan, namun pada akhirnya harus tetap dibimbing dan diarahkan apa sebenarnya tujuan dzikir itu agar keutamaan tidak lagi menjadi tujuan utama.

Alangkah baiknya dizkir yang kita lakukan murni untuk mencapai kedekatan kepada Allah swt, menyadari bahwa ketika kita berdzikir hakikatnya kita diizinkan berdzikir oleh Allah, diizinkan menyebut Asmaa-Nya, yang akhirnya akan melahirkan rasa syukur kepeda Allah swt.

RESUME KAJIAN TASAWUF BERSAMA KH. MUHAMMAD DANIAL NAFIS Hafizhahullah, kitab Minahus Saniyah karya Syekh Abdul Wahab Sya’rani ra. Via Zoom Clud Meeting 20.30 – 23.15 Selasa 31 Maret 2020 / 6 Sya’ban 1441

 

(Eko Priyanto)