Jam’iyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Wustho DKI Jakarta menggelar Bahtsul Masail Diniyah Thoriqah tentang pembaiatan melalui mimpi oleh Rasulullah SAW di Zawiyah wa Ma’had Arraudhah, Tebet, Jakarta pada Sabtu (31/7).

Jakarta, Aktual.com– Jam’iyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Wustho DKI Jakarta menggelar Bahtsul Masail Diniyah Thoriqah tentang pembaiatan melalui mimpi oleh Rasulullah SAW di Zawiyah wa Ma’had Arraudhah, Tebet, Jakarta pada Sabtu (31/7).

Perwakilan Dewan Ifta’ KH. M. Yunus mengatakan bahwa bertemunya seseorang dengan Rasulullah SAW itu benar adanya dan tidak bisa dipungkiri. Akan tetapi pertemuan tersebut tidak akan sama secara hakiki, zatnya Rasulullah.

“Seperti melihat gunung jika dilihat pasti berbeda-beda, itu baru urusan gunung. Bagaimana dengan keagungan Rasulullah SAW,” ucapnya.

Kemudian, beliau melanjutkan bahwa pembaiatan thoriqah melalui mimpi oleh Rasulullah SAW jika yang dibaiat adalah penggagas baru bisa dibenarkan. Karena semua thoriqah yang masuk di Indonesia sendiri melalui jalur sayyidina Abu Bakar dan sayyidina ‘Ali.

“Jika dibaiat oleh Rasulullah SAW, berarti dia adalah penggagasnya. Thoriqah at-Tijani ini diterima melalui Syekh Ahmad at-Tijani sebagai penggagasnya melalui Rasulullah. Jika seseorang mengaku bertemu Rasulullah SAW dan mendapatkan wirid berarti ia sebagai pengagas bukan lagi mengikuti orang lain,” pungkas Muqoddam at-Tijani.

Terakhir, beliau menyampaikan bahwa jika diangkat sebagai mursyid dibawah bimbingan mursyid yang lain maka dimungkinkan. Akan tetapi jika mursyid di bawah bimbingan Rasulullah SAW tidak dimungkinkan terjadi.

“Jika Mursyid, maka memungkinkan. Tapi, jika mursyid dibawah Rasulullah ini tidak dimungkinkan terjadi,” kata KH. M. Yunus.

(Rizky Zulkarnain)

(Arie Saputra)