Jakarta, Aktual.co — Menceritakan aib orang lain (ghibah) di zaman sekarang nampaknya sudah menjadi sebuah tren  Bahkan ghibah sudah menjadi tradisi dalam budaya masyarakat kita.

Belum lagi, peran media turut memberikan dukungan sepenuhnya. Lihat saja siaran TV, acara pergunjingan mendapat respon yang bagus dari masyarakat. Itulah sebabnya kenapa acara-cara yang membongkar kesalahan orang lain tetap eksis dan semakin mnejamur serta beragam.

Mulai dari masyarakat kecil di warung kopi sampai dengan tingkat elit politik menjadikan pergunjingan menjadi suatu hal yang biasa, menjadi sarapan pagi yang apabila ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Padahal Rasulullah SAW mengingatkan kita betapa buruk dan besarnya dosa dari menggunjing sehingga dosanya lebih besar dari berbuat zina.

Sementara itu, Islam juga meminta umatnya menjaga lidahnya dari hal-hal yang bersifat ‘ghibah’.

Akan tetapi, jika dipahami dengan seksama, Ghibah (menggunjing) sebenarnya musibah besar yang menimpa masyarakat. Sebab ghibah memberikan pengaruh yang luar biasa pada hati dan jiwa.

Dimana menggunjung seseorang menimbulkan dampak yang sangat buruk pada keluarga dan masyarakat. Ia bekerja seperti api yang melahap ranting-ranting yang kering. Ia memisahkan kakak dari adiknya, menjauhkan orang dari kekasihnya, merusak hubungan dengan teman sejawat, dan mengganggu persahabatan.

Penyakit ini telah banyak memisahkan istri dari suaminya, anak dari ayahnya, dan kakak dari adiknya. Betapa banyak tali yang ia putuskan dan fitnah yang ia timbulkan. Bahkan betapa banyak dendam yang ia letupkan dan rasa permusuhan yang ia kobarkan di dalam dada, karena betapa banyak keburukan yang ia hadirkan.

Oleh karena itu, ghibah mendatangkan bahaya besar bahaya, karena tidak jarang peperangan yang terjadi antara satu negara dengan negara lainnya dipicu oleh penyakit ini.

Maka, Islam mengharamkan ghibah (menggunjing) secara pasti. Ghibah adalah penyakit kronis dan racun yang terasa di lidah lebih manis dari madu.

Artikel ini ditulis oleh: