Pagi-pagi Chieko Fujieda memasak nasi, ikan salmon, sup miso, telur dadar, terung goreng dan paprika untuk sarapan. Hari itu ia kedatangan lima mahasiswa dari Indonesia yang sedang studi banding.
Makanan-makanan tersebut tertata rapi di piring-piring yang disusun di sebuah baki. Sudah menjadi kebiasaan orang Jepang menata makanannya. Mereka mempunyai prinsip makan tidak hanya dengan mulut, tetapi juga dengan mata.
Setelah selesai memasak ia menyajikannya di atas meja lengkap dengan buah kiwi yang baru saja dipetiknya. Ia dan suaminya sebagai petani memang menanam bermacam-macam tanaman di halaman rumah mulai dari beras, sayur-mayur hingga buah-buahan.
Semua produk nabati yang mereka konsumsi setiap hari adalah hasil dari tanahnya, maka apa yang disajikan selalu terasa segar.
Debra, Chyntia, Dania dan Desy adalah mahasiswa Indonesia yang tinggal sehari di rumah keluarga Fujieda. Pagi itu mereka menyantap makanan dengan mulut yang lahap, dan mata berbinar..
“Nasinya enak sekali, pulen beda dengan nasi di Tokyo. Kiwinya juga manis sekali,” kata Debra yang lihai menyantap nasi dengan sumpit.
Chieko yang mendengar pujian dari mahasiswa Indonesia itu tersipu-sipu. Ia mengaku baru saja belajar masak. Daerah tempat keluarga Fujieda tinggal di Senboku, Perfektur Akita, terkenal dengan berasnya yang enak. Beras di Akita mungkin tidak sewangi beras di Indonesia, tetapi nasinya pulen dan rasanya manis.
Hampir sembilan puluh persen penduduk yang daerahnya berada di Jepang Utara adalah petani. Saat ini musim gugur mereka tidak lagi menanam padi. Masa panennya sudah selesai pada Agustus.
Chieko bertanya kepada mahasiswa Indonesia bagaimana suhu di Indonesia, karena saat itu di daerahnya mencapai 14 derajat Celcius.
“Kalau di Jakarta udaranya panas bisa sampai 34 derajat Celcius. Di Indonesia hanya ada dua musim, musim hujan dan musim panas,” kata Chyntia menjelaskan dengan bahasa Jepang.
“Wah enaknya, saya iri, berarti di Indonesia bisa menanam beras setiap saat. ya…,” kata Chieko terkesima.
Di rumahnya banyak hiasan rumah seperti bebek-bebek dari kain warna-warni dan koi no buri tergantung di dinding, itu semua hasil kerajinan tangan Chieko.
“Itu semua saya yang membuat, kalau sedang libur saya biasanya menjahit,” kata dia.
Suami Chieko, Noboru Fujieda sedang berada di luar rumah memperhatikan tanaman-tanaman di halamannya bersama kucing belang kesayangannya, Choko.
Rumah mereka masih tradisional, satu rumah induk dan satu anak rumah yang menjadi tempat tinggal bagi para mahasiswa Indonesia tersebut.
“Rumah saya umurnya sudah seratus tahun lebih, ini dari kakek buyut saya, kalau musim dingin salju turun sangat lebat sehingga menutupi atap dan halaman rumah,” ucapnya.
Ia bercerita jika musim salju tiba biasanya menyekop salju yang menutupi halaman rumahnya dan juga pergi bermaih ski bersama anak dan cucunya.
Noboru menunjukkan alat ski punya keluarganya yang disimpan di gudang. Ada beberapa alat ski milik Noboru, istrinya, anak perempuannya Akemi, suami Akemi, cucunya Shota anak dari Akemi, dan anak laki-lakinya.
“Tapi Shota lebih suka bermain papan luncur,” ucapnya sambil menunjukkan papan merah milik cucunya yang masih duduk di kelas lima SD.
Jika tidak terlalu sibuk mereka berwisata. Hari itu mereka mengajak serta lima mahasiswa Indonesia pergi ke danau Tazawa.
Butuh waktu sekitar 30 menit perjalanan dari rumah menuju danau tersebut. Sepanjang jalan menuju danau terlihat bunga matahari. kuning bersemi di tepi jalan raya.
Daerah tersebut dikelilingi oleh pegunungan, saat itu daun-daun telah menguning dan memerah membuat gunung-gunung memiliki gradasi warna cantik dan menambah keindahan pada musim yang mulai dingin.
Sesampainya di danau Tazawa yang menjadi danau terdalam di Jepang dan tidak pernah membeku meski pada saat musim dingin. Mereka ketepian menikmati udara dan melihat ikan-ikan berenang di air danau yang hijau kebiru-biruan.
Setelah puas menikmati keindahan danau, mereka makan udon di kawasan peristirahatan dekat danau, Mi udon yang disajikan sedikit berbeda dengan udon yang ada di daerah lain di Jepang.
Minya sedikit kecil dan pipih. Ada kebiasaan menarik dari orang Jepang saat menyantap udon. Mi itu tidak boleh digigit, jadi harus diseruput hingga ujung dan menyeruputnya pun harus sambil bersuara.
Suara dari seruputan itu menandakan bahwa makanan yang disantap lezat. Agak lucu melihat keempat mahasiswa Indonesia kelimpungan menyedot mi udon sambil mengeluarkan suara, kuahnya muncrat ke mana-mana.

()